Sejarah Terminal Arjosari di Kota Malang, Jadi Terminal Sibuk Sejak Tahun 1989

Terminal Arjosari jadi terminal sibuk sejak tahun 1989 (foto : Website Pemkot Malang)

 

Kota Malang, Blok-a.com – Terminal Arjosari sudah bukan nama asing di Kota Malang. Terminal tersebut menjadi pusat moda transportasi antar kota hingga antar provinsi di Jawa Timur. Pasalnya, terminal tersebut sudah melayani banyak tujuan kota. Nah, berikut adalah sejarah terminal Arjosari Di Kota Malang.

Sebelumnya Terminal Arjosari merupakan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kemudian, lokasi Terminal Arjosari mulai dikembangkan sebagai terminal fisik sejak tahun 1989.

Secara resmi, Terminal Arjosari disahkan dan beroperasi 13 November 1989 oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Awalnya terminal ini dikelola oleh Pemerintah Kota Malang. Namun, pada Januari 2016, statusnya ditingkatkan menjadi terminal penumpang tipe A, sehingga pengelolaannya beralih ke Kementerian Perhubungan Republik Indonesia berdasarkan UU No.32 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah.

Terletak di Kelurahan Arjosari, sisi utara pintu masuk Kota Malang, Terminal Arjosari merupakan terminal bus terbesar dan paling sibuk di kota ini. Bersamaan dengan keberadaannya yang dekat dengan pemukiman penduduk, terminal ini juga berdekatan dengan Pasar Rakyat Arjosari, komplek BBPPMPV BOE Malang (VEDC), dan beberapa kantor UPT dari instansi pemerintahan setempat. Operasionalnya dimulai akhir tahun 1989 sebagai pengganti Terminal Pattimura yang terletak di dekat Stasiun Malang Kotabaru saat ini.

Sejak tahun 2017, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (Ditjen Hubdat) Kementerian Perhubungan Republik Indonesia mengambil alih kewenangan tata kelola terminal ini.

Terminal Arjosari memiliki luas area sekitar 55.250 meter persegi. Terbagi menjadi bagian khusus untuk bus besar atau sedang, kendaraan non-bus, dan kendaraan pribadi. Terminal Arjosari juga menjadi pusat transit untuk berbagai moda angkutan umum, termasuk angkutan kota, angkutan pedesaan, MPU antarkota, bus wisata KSPN, serta bus antarkota. Selain itu, terminal ini juga menjadi titik awal bagi taksi, travel, ojek pangkalan, dan angkutan daring.

Di terminal ini juga terdapat parkir motor sekaligus penitipan. Sehingga, bagi siapa saja yang berangkat menggunakan sepeda motor untuk waktu yang lama bisa melakukan penitipan sepeda motor di sini. Harganya berkisar Rp. 5 ribu hingga Rp 10 ribu per malamnya. Untuk parkir biasa dikenakan Rp 2 ribu saja. (mg2/bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com