Rawan Longsor, Pemkot Batu Lempar Usulan ‘Rombak’ Plengsengan Jalur Payung

Perbaikan Jalur Payung
Perbaikan Jalur Payung - Foto: istimewa

KOTA BATU – Sudah beberapa kali longsor terjadi di Kota Batu utamanya di akses utama jalan provinsi Malang-Kediri-Jombang. Bahkan material longsor selalu menutup akses jalan tersebut. Tentunya ini terjadi setiap tahunnya selama musim penghujan.

Tentunya perlu ada solusi untuk mengatasi hal tersebut. Belum lagi terjadi tanah retak di kawasan Payung 1 yang menjadi masalah serius.

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu, Achmad Choirul Rochim mengatakan pihaknya telah memberikan usulan ke Pemprov Jatim terkait penanganan jangka panjang terhadap kondisi tanah retak. Mengingat jalan tersebut berada dalam penanganan Pemprov Jatim.

“Usulan agar meminimalisir bencana longsor di Payung harus dilakukan penguatan lereng tebing. Penguatan bisa dilakukan dengan plengsengan atau area rawan longsor agak dilandaikan agar kemiringan tidak terlalu curam. Sehingga setiap hujan tidak gampang longsor,” paparnya, Kamis (4/3).

Meskipun begitu untuk upaya penanganan jangka panjang juga telah diusulkan dengan biaya yang cukup besar. Belum lagi area rawan longsor ini berada diantara lereng dan tebing yang curam.

Lanjut Rochim solusi untuk penanganan ini menang harus segera dilakukan, meskipun saat terjadi longsor ada jalur alternatif namun tidak semua kendaranaan bisa melaluinya.

“Jalur alternatif ada tapi tidak semua kendaraan bisa lewat. Yakni di jalan Rajekwesi atau Bukit Klemuk. Tapi konturnya kan juga cukup curam dan rawan kecelakaan. Begitu pula jalur Brau-Pujon,” bebernya.

Menurut Rochim jalur alternatif hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Sedangkan untuk kendaraan mobil seperti mini bus, bus, truk dan kendaraan besar lainnya diminta untuk putar balik. Karena tidak memungkinkan untuk melalui jalur alternatif tersebut.

Sedangkan Kasi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan UPT Malang, Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Provinsi Jawa Timur, Kholilah menambahkan, pihaknya telah melakukan penanganan jangka pendek. Berupa normalisasi saluran drainase, menutup retakan, memasang box culvert pada retakan di sepanjang jalan.

Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Provinsi Jawa Timur telah membuat sumur tangkapan air di empat titik. Tiga titik sebelah kiri jalan (T-B) dan satu di kanan jalan (B-T).

“Penanganan jangka panjangnya saran dari akademisi membuat jembatan layang. Ini butuh waktu lama dan biaya cukup mahal,” katanya.

“Selain itu rencana jangka panjang menutupi retakan tanah menggunakan paku bumi dengan cor selebar badan jalan yang rawan retak. Utamanya di Payung I,” sambung Kholilah.

Rencana menutup retakan tanah menggunakan paku bumi, kemungkinan menggunakan dana PAK APBD Jatim 2021 atau APBD Jatim 2022.

Begitu juga penanganan longsor di Pujon – Ngantang – Kasembon diungkapnya akan dilakukan secara bertahap. Baik menggunakan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), Belanja Tidak Terduga (BTT), dan anggaran dari bidang pemeliharaan di Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Provinsi Jawa Timur.

“Misalnya longsor di Pujon beberapa waktu lalu untuk pelaksanaan langsung oleh Bidang Pemeliharaan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Provinsi Jawa Timur,” bebernya.

 

Exit mobile version