KOTA BATU – Peranan Pos Pelayanan Kesehatan Terpadu (Posyandu) dinilai penting dalam mengoptimalkan penanganan Stunting di Kota Batu. Pasalnya dari tahun ke tahun kasus stunting di Kota Batu mulai mengalami penurunan.
Seperti di tahun 2020 lalu kasus stunting mencapai 23,8 persen. Sedangkan, berdasarkan data bulan timbang per Februari 2021 kemarin, kasus stunting Kota Batu turun drastis menjadi 14,8 persen.
“Dengan adanya pelayanan posyandu, saya berharap permasalahan kurangnya gizi dan kasih sayang pada anak dapat diatasi. Saya juga berharap Posyandu dapat menjadi program unggulan Dinas Kesehatan Kota Batu. Apalagi tren stunting dari tahun ke tahun mulai mengalami penurunan,” terang Wali Kota Dewanti Rumpoko, Sabtu (17/4).
Menurut Dewanti, stunting terjadi karena kurangnya gizi serta kasih sayang dari orang tua. Selain itu kurangnya edukasi yang diterima masyarakat khususnya ibu muda. Dimana banyak ibu muda yang memilih melakukan diet secara sembarangan tanpa memperhatikan nutrisi yang dibutuhkan anak dan sang ibu.
“Banyak ibu muda diet ngawur. Tidak memperhatikan nutrisi yang dibutuhkan sang ibu dan anak. Padahal gizi yang seimbang sangat diperlukan untuk mereka,” katanya.
Oleh sebab itu, dengan keberadaan posyandu, ia beharap permasalahan kurang gizi dan kasih sayang anak bisa terpenuhi. Sehingga permasalahan stunting Kota Batu bisa semakin ditekan. Pihaknya juga berharap dengan adanya Posyandu, bisa menjadi program unggulan Dinkes Kota Batu.
Apalagi posyandu ini merupakan bentuk Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM), selain memudahkan masyarakat mendapatkan pelayanan dasar juga dioptimalkan untuk memberikan edukasi dalam mencegah stunting.










Balas
Lihat komentar