Sumenep, blok-a.com – Kepedulian Pemerintah Kabupaten Sumenep dalam merawat Tradisi memang patut dihargai sebagai sebentuk apresiasi. Namun berbagai event yang digelar itu perlu dikaji dan dievaluasi, agar tidak terkesan sekadar hura-hura.
Merawat tradisi atau melestarikan kearifan lokal itu jangan sampai mengenyampingkan tuntunan didalam tradisi itu.
Musik Tong-tong mungkin mengalami transformasi budaya atau berevolusi. Kalau dulu dikenal dengan Tong-tong musik patrol, tapi di Era 1990-an dikenal Tong-tong musik Ul-daul.
“Saya mengapresiasi Pemkab Sumenep dalam merawat tradisi, tapi segala gelaran even harus juga dievaluasi. Tiap event itu kan harus ada pesan moral yang mau disampaikan ke masyarakat (publik). Secara kuantitas sudah oke. Tapi secara kualitas perlu dievaluasi lagi,” kata Budayawan Sumenep Ibnu Hajar.
Menurut Ibnu, bukan hanya festival musik Tpng-tong, segala event harus dievaluasi misalnya terkait dampaknya, substansinya, bagaimana penganggarannya. Termasuk bagaimana mendatangkan wisatawan dari luar Sumenep. Sehingga dapat menyumbang dari APBD Sumenep.
Jadi, kata Ibnu, soal musik tong-tong yang mengalami transformasi budaya itu menjadi ul-daul itu memang mengikuti tuntutan jaman dan otu harus. Sebab kebudayaan itu adalah dinamis, tidak stagnan. Ini memang menjadi karya seni yang luar biasa sehingga mampu berevolusi.
“Tapi perlu juga diperkenalkan pada generais muda bahwa musik tong-tong sebelum mengalami transformasi dengan musik tongtong yang sudah bertransformasi menjadi musik ul-daul. Jadi ada maping atau pemetaan dimana ada seni musik tradisional, seni modern dan musik seni yang berevolusi,” pungkasnya.
Bagi budayawan satu ini, menganggap tidak masalah seni musik tong-tong bertransformasi asal jangan menghilangkan substansi atau kearifan lokalnya (lokal wisdom). Tapi generasi muda juga harus tahu mana seni musik tradisional dan mana seni musil yang modern.
“La iyalah, ketika bicara karya seni budaya tidak sekedar hiburan tapi memiliki pesan moral. Mksalnya terkait kekompakan, harmonisasi hidup. Seperti musik tong-tong didalamnya ada tari-tarian, ada tembang/kejungan. Saya tidak tahu yang dinilai itu soal harmonisasinya, unsur musikalnya, ada kidung-kidungnya yang mengandung pesan moral dan dari unsur gerakannya memunculkan filosofi seperti apa. Sebab produk kebudayaan itu kan komplek,” ujarnya. (do)










Balas
Lihat komentar