KOTA BATU – Museum Musik Dunia, Jawa Timur Park (JTP) 3 menjadi rumah bagi banyak alat musik dan tribut untuk para musisi legendaris. Salah satu spot yang menarik adalah tribut Gesang, sang maestro kerongcong Indonesia.
“Ini spot tribut untuk Gesang. Piagamnya, becaknya, sampai Cello-nya asli punya beliau,” terang Donny, Marketing Museum Musik Dunia.
Di area tribut untuk Gesang ini, pengunjung dapat melihat berbagai benda bersejarah yang dimiliki oleh Gesang. Museum Musik Dunia juga khusus memainkan alunan lagu-lagu keroncong di area ini.
Gesang merupakan musisi keroncong kelahiran Surakarta, 1 Oktober 1917 dan meninggal di Surakarta, 20 Mei 2010. Pada awalnya, Gesang bukanlah seorang pencipta lagu. Ia hanya menjadi penyanyi keroncong dari satu tempat ke tempat lain di kota Solo.
Gesang kemudian berubah menjadi legenda musik keroncong Indonesia. Musisi yang memiliki nama lengkap Gesang Martohartono ini dikenal karena lagu ciptaannya “Bengawan Solo”.
Pada tahun 1940, lagu Bengawan Solo begitu naik daun di dalam dan luar negeri. Bahkan, lagu ini sempat diputar di salah satu layar lebar Jepang. Ia kemudian mulai dijuluki sang maestro musik keroncong di Indonesia karena jasa-jasanya yang telah memperkenalkan genre ini kepada dunia.
Selain Bengawan Solo, Gesang menciptakan puluhan lagu keroncong lainnya seperti Si Piatu (1938), Roda Dunia (1939), Saputangan (1941), Tritonadi (1942), Donengan (1950), Pamitan (1970), dan masih banyak lagi.
Di Museum Musik Dunia, terdapat koleksi-koleksi peninggalan milik Gesang yang dapat dinikmati oleh pengunjung. Tersedia juga satu ruangan khusus yang bernama Keroncong Modern, dimana pengunjung bisa berfoto dengan suasana di kota Solo saat keroncong dirintis oleh Gesang.
Penasaran dengan spot Gesang ini? Yuk liburan, hanya di JTP 3 ya!










Balas