Kota Malang, blok-A.com – Siapa yang tidak mengenal Pasar Comboran? Pasar yang menjual berbagai macam barang bekas tersebut, ternyata sudah berdiri sejak puluhan tahun, Selasa (13/09/2022).
Penasaran dengan sejarahnya, blok-A.com mencoba menghubungi salah satu pengamat budaya, untuk menceritakan kisah unik di balik Pasar Comboran.
Pengamat Budaya, Agung Buana menceritakan sejarah singkat dari Pasar Comboran itu, dari asal usul namanya, hingga terciptanya Pasar Comboran.
Asal Usul Nama Comboran

Menurut Agung, Comboran diambil dari kata “nyombor” yang berarti memberi makan kuda. Pada tahun 1879, tepatnya setelah kereta api masuk ke Kota Malang, ada sebuah aktivitas yang bernama “nyomboran” dari seorang delman, memberi makan kuda dokarnya. Di sebelah barat Comboran, ada juga sebuah trem yang dulunya digadang-gadang sebagai pangkalan para kuda.
Di era tersebut, penumpang kereta api dari Singosari, akan berhenti di Stasiun Jagalan. Ketika hendak kerumahnya, sebut saja Rampal, ia harus menggunakan dokar yang ada di pangkalan tersebut. Mulai dari aktivitas memberi makan kuda, hingga penumpang yang menggunakan dokar, istilah “Comboran” melekat di telinga masyarakat jagalan saat itu.
Dari Istilah Comboran, Menjadi Pasar Bekas

Memasuki tahun 1900-an, tepatnya pada 1942, mengingat bahwa saat itu tengah terjadi peristiwa masuknya tentara Jepang ke Kota Malang.
Saat itu, orang belanda yang tinggal di permukiman Kota Malang, memiliki pembantu dirumahnya masing masing. Hingga terdengar kabar, bahwa orang Belanda akan segera diasingkan. Tepat pada 8 Maret 1942, Belanda menyerah kepada Jepang tanpa syarat, yang dikenal dengan istilah perjanjian kalijati.
Mendengar kabar tersebut, Belanda memberikan pesan kepada seorang pembantu, agar menjual barang-barangnya untuk mendapatkan uang.
“Jika aku pergi, kamu boleh menjual barang-barang yang ada disini,” ucap Belanda kepada para pembantunya.
Para pembantu tersebut, akhirnya menjual barang milik belanda, kepada masyarakat disana. Dimulai dari pakaian bekas milik belanda. Di era Jepang, pakaian memang lagi sulit-sulitnya untuk didapat. Mereka menjual barang bekas itu, untuk mencukupi kebutuhannya.
Agung menuturkan bahwa era comboran dimulai dari pakaian bekas, hingga barang bekas lainnya.
“Menuju tahun 1947 – 1950, tidak hanya pakaian bekas saja, melainkan barang lainnya seperti alat-alat dapur, pernak-pernak dan barang barang lain yang layak dijual,” ujar Agung pada Selasa, (13/09/2022).
Salah satu alasan, mengapa Pasar Comboran tetap bertahan karena adanya peristiwa inflasi yang terjadi di era tersebut.
“Karena di era tahun 70-an, terjadi inflasi dan mengakibatkan harga barang tinggi, masyarakat hanya bisa membeli barang bekas,” tuturnya.
Sebagai informasi, tahun 90-an, Pasar Comboran pernah dinobatkan menjadi pasar loak terlengkap di Asia Tenggara. Hal itu dibernarkan langsung oleh Pengamat Budaya, Agung Buana.
“Pasar Comboran pernah mendapat predikat pasar loak terlengkap di Asia Tenggara. Jadi terlengkap, bukan terbesar. Yang terbesar mungkin di Suarabaya,” tutup Agung.
(mg1/rco)










Balas
Lihat komentar