Kota Malang, blok-A.com – Dampak Pandemi Covid-19 masih dirasakan oleh pedagang sepatu sendal di Kota Malang, Rabu (14/09/2022).
Dampak pandemi masih dirasakan sebagian pedagang di kota Malang, beberapa pedagang masih kesulitan mencari keuntungan paska pandemi. Menurut sebagaian, mampu bertahan hingga sekarang saja sudah syukur.
Seperti yang dirasakan oleh pedagang sepatu sendal, Runsia (48) yang sudah berjualan sepatu dan sendal di Jalan Kawi selama 9 tahun.
Bermula menemani suami yang parkir di Jalan Kawi tepat di depan toko Kampoeng Roti, ia memutuskan untuk berjualan sendal untuk menambah penghasilan. Memanfaatkan sisi bagian belakang Mobil tua berwarna merah itu Runisa menjajakan dagangannya.
Orang kelahiran Madura ini mengaku usahanya terdampak pandemi, usaha yang awalnya ramai hingga mampu menjual grosiran, kini sepi pembeli dan hanya bisa menjual satu dua hingga tiga sendal dalam setiap harinya.
Dari pantauan blok-A.com terlihat sepatu yang disusun diatas kardusnya mulai berdebu. Sesekali ia mengusap debu yang mulai mengotori kardus kardusnya.
“Ya gini mbak keseharian saya panas panasan sampai gosong, ini tadi Alhamdulillah masih pagi ada yang beli satu,” ucapnya saat ditemui blok-A.com.
“Dulu sebelum pandemi ramai mbak, saya grosiran dulu sampai bisa beli mobil beli rumah ya meskipun kecil sederhana setidaknya sudah milik saya sendiri gak ngontrak,” tambahnya.
Kelihaiannya menawarkan dagangan tetap dijalaninya setiap hari, ia setia menemani yang sedang berkerja dibawah terik matahari sebagai tukang parkir. Dia melakukan itu sembari menjajakan dagangannya di mobil tuanya.
Rusia menceritakan kesehariannya, dia mengambil dagangan dari sudara kandungan. Dalam satu barangnya ia hanya menjual dengan harga Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu tergantung kualitas bahannya.
“Ini bukan usaha saya sendiri mbak, ini ambil di adek saya kebetulan adek saya punya usaha, jadi satunya saya hanya mengambil keuntungan 5 ribu sampai 10 ribu,” tambahnya.
Alasannya tetap berjualan meskipun sepi pembeli, karena ia ingin membantu meringankan beban suami. Pendapatan suami sebagai tukang parkir yang pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan dua anak membuatnya harus tetap berjualan.
Terkadang ia merasa putus asa ketika dagangannya tidak ada yang membeli satupun, tetapi untuk makan sehari hari ia harus berjuang kembali.
“Bawa pulang uang 100 ribu itu susah mbak, tapi kalau pulang ke rumah lihat anak anak saya semangat lagi. Dulu pernah nyerah selama beberapa minggu tapi saya yakin saya harus bangkit kembali untuk anak anak,” tegasnya.
Wanita separuh baya ini menangis saat menceritakan anaknya sudah putus sekolah sejak pandemi, dua tahun pandemi membuat usahanya hampir gulung tikar yang mengakibatkan pendidikan anaknya menjadi korban.
“Anak saya putus sekolah mbak, karena spp ketunda tunda terus di swasta kan tetap bayar meskipun pandemi,” jelas Runsia.
Perasaan bersalah masih sering menyelimuti wanitia asli Madura ini, menurutnya pendidikan anak sangat penting untuk bekal kehidupan anak selanjutnya namun takdir dan keadaan ekonomi berkata lain.
“Saya sedih mbak, saya malu sama anak saya karena kan pendidikan itu penting tapi takdir berkata lain sama kehidupan saya,” pungkasnya.
Runsia berharap pandemi segera berakhir, BBM segera turun agar roda kehidupan bisa tetap berputar.
Terlihat pembeli sedang memilih dagangan Runsia, wanita berbaju garis garis ini membeli sepatu dengan harga Rp 30 ribu. Ia mengaku telah berlangganan sejak lama dengan Runsia.
“Sudah lama mbak ini berjualan disini, saya kalau beli ya disini karena murah,” paparnya saat ditemui blok-A.com.
Wanita berbaju garis garis ini mengaku membeli untuk kebutuhan anaknya, memilih sepatu dengan harga murah karena ia harus membagi pemasukannya untuk kebutuhan lainnya.
“Uangnya dibagi mbak cari yang murah saja sekarang apa apa pada mahal,” pungkasnya. (mg2/bob)










Balas