Kabupaten Malang, blok-a.com – Sekitar 20 Kepala Keluarga (KK) dan 8 warga kos-kosan di Dusun Bendungan, Desa Landungsari, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang musti melewati jembatan semi permanen yang cukup tinggi dan curam setiap harinya.
Jembatan itu adalah salah satu jalan pintas yang cepat untuk menuju ke arah jalan utama, atau ke Kota Malang.
Terlihat, setiap warga yang melewati jembatan itu harus berjalan kaki, atau menuntun sepeda motornya. Dengan tinggi pembatas yang cukup rendah, warga melewati jembatan dengan ketinggian 10 meter itu.
Ketua RT setempat, Priyo Sambodo menjelaskan, jembatan itu memang adalah salah satu akses paling cepat. Jembatan itu sebenarnya langganan menjadi korban banjir bandang.
Bahkan 2 tahun lalu jembatan penghubung atau menjadi pembatas antara Kota Malang dan Kabupaten Malang ini pernah roboh.
“2 tahun lalu jembatan itu roboh diterjang banjir,” kata dia dikunjungi Sabtu (1/3/2025).
Dia menjelaskan, pasca robohnya jembatan itu warga langsung memperbaiki dengan swadaya. Yang mulanya jembatan beton, kini diganti besi dan kayu.
Alhasil, yang dulunya bisa dilewati sepeda motor, kini hanya bisa dilalui pejalan kaki saja dan jika membawa sepeda motor harus dituntun.
“Jembatan ini tahun-nya sudah lama, saya kurang tahu. Jembatan yang ada sekarang itu dibangun setahun yang lalu pada saat jembatan beton itu diterjang banjir,” kata dia.
Jembatan ini sendiri tidak bisa diperbaiki dengan anggaran Pemkab Malang karena jembatan ini adalah milik pribadi. Seorang warga bernama Samuri adalah pembangun jembatan ini. Untuk tahun berapa jembatan ini dibangun, Priyo tidak tahu secara pasti.
“Karena jembatan itu milik pribadi jadi bukan jembatan milik desa atau Pemkab atau pemerintah di kecamatan, anggaran dari Pemkab itu tidak ada,” kata dia.
Oleh karena itu, warga kini hanya bisa memperbaiki seadanya. Priyo menyebut sebenarnya tanah di jembatan itu pun sebenarnya labil. Longsor pun bisa saja mengintau setiap waktu apalagi saat musim ekstrem seperti saat ini.
Oleh karena itu, di sekitar jembatan ditambahkan penyangga dari cor.
“Samping kanan kirinya labil untuk longsor, itu ditambahi tiang penyangga dari cor, satu mingguan pengecoran. Sehingga jembatan ini ditutup untuk lalu lintas roda dua,” tutupnya.









