Mengingat Tragedi Kanjuruhan Melalui Karya Seni Penduso Table Game di MCC

whatsapp image 2022 12 23 at 07.41.24
Penampakan Penduso Table Game sebuah karya seni yang dipamerkan di MCC Kota Malang (dok. Muhammad Zein for blok-a.com)

Kota Malang, blok-a.com – Berusaha untuk membantu keadilan Tragedi Kanjuruhan bisa dilakukan dengan apa saja. Salah satunya tidak harus turun jalan, namun bisa berupa menyumbang karya seni.

Hal itu dilakukan seniman asal Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan yang sudah lama tinggal di Malang. Dia adalah Muhammad Zein (25). Dia ingin masyarakat sadar bahwa ada 135 nyawa meninggal dunia dan belum mendapat keadilan melalui karya seni bernama ‘Penduso Table Game’.

Terlihat karya seni itu memang layaknya sebuah keranda mayat yang dibuat dengan bahan akrilik. Di dalamnya ternyata juga ada game soccer table dan sebuah lampu sebagai pengganti simbol asap gas air mata dan juga potongan stiker.

Zein bercerita, ia pertama kali mempunyai ide untuk membuat karya seni tersebut setelah melihat video gabungan detik-detik tragedi kelam Kanjuruhan Malang.

“Setelah lihat video-video itu dan mengetahui banyak korban meninggal, munculah pengen buat itu (karya seni). Aku lihat sketch lama, terus ada yang berhubungan dengan keranda dan aku eksekusi desain visualnya,” ujar Zeian, Selasa (20/12/2022).

Tepat ditanggal 21 Oktober 2022 lalu sketsa visual tersebut berhasil ia ciptakan. Setelah sketsa ia buat dan ia posting di media sosial, ternyata banyak yang memberi tanggapan positif.

Kemudian, ia mulai mengeksekusi karya visualnya menjadi karya seni nyata setelah ia mendapat tawaran untuk pameran bertemakan ‘Toys’ di Malang Creative Center (MCC).

“Saya kerjakan mulai akhir November. Sekitar dua Minggu saya kerjakan pelan-pelan,” katanya.

Dalam maknanya, karya seni ‘Penduso Table Game’ ini, kata Zein lebih kepada mempertanyakan kenapa bisa terjadi tragedi kelam yang menewaskan 135 jiwa ini.

Padahal, sepak bola menurut Zein merupakan hiburan keluarga yang harusnya bisa dinikmati setiap waktu.

“Table game itu bukan untuk interaktif. Jadi saya maknai, siapa yang memainkan atau siapa sih aktornya ini (dalam Tragedi Kanjuruhan),” ungkapnya.

Keranda atau biasa dikenal sebagai penduso oleh orang Jawa, Zeian gambarkan bagaimana keranda itu adalah Stadion Kanjuruhan dengan latar biru sebagai lokasi matinya saudara-saudara Aremania dan Aremanita.

“Aku lihat kan arsitektur Stadion Kanjuruhan itu berlatar biru. Jadi penggambaran Stadion dalam penduso (keranda) itu. Saya lebih objektif ke tragedinya,” bebernya.

Dalam karyanya tersebut, Zein hanya memaknakan klub yang bertanding dan aparat keamanan dalam miniatur yang ada di dalam table game soccer tersebut.

Zein mengecat miniatur orang di table game soccer itu dengan warna biru dan hijau sebagai simbol klub yang bermain saat itu serta warna hitam yang ia simbolkan sebagai aparat keamanan yang berjaga saat itu.

“Pemain di game itu saya simbolkan di kejadian. Saya cat warna biru, hijau dan hitam. Ya sebagai representasi kejadian lah,” ucapnya.

Namun, Zein tak mau menyimbolkan terlalu banyak lambang atau logo-logo Arema dalam karyanya itu. Ia pun tentu memiliki alasan.

Zein beralasan bahwa objektifitas dalam Tragedi Kanjuruhan ini adalah tentang kemanusiaan. Ia tak mau menonjolkan suatu klub, perusahaan, orang beratribut ataupun instansi tertentu dalam karyanya.

“Ini kayak politik identitas. Saya gambarkan dengan makna, ayolah taruh semua simbol dan lambang kalian dan kita disini berjuang dan berbicara tentang kemanusiaan,” jelasnya.

Dengan karya yang cukup ikonik ini, Zein ingin memberikan trigger melalui seni untuk kelanjutan proses Tragedi Kanjuruhan yang hingga kini masih belum menemukan titik terang.

Meski ia sudah tak pernah menonton bola sejak dibangku SMK, atas dasar kemanusiaan, ia mempersembahkan karya ini untuk kepedulian dan perjuangan keadilan korban maupun keluarga korban Tragedi Kanjuruhan.

“Karyaku ini men-triggwe empati orang-orang lah. Kalau bisa bareng-bareng taruh atribut, terus ayo diusut yang jelas dan transparan,” pungkasnya.

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?