Mengenal Lebih Dekat Sosok Kiai Jombang yang Layak Jadi Pahlawan Nasional

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menghadiri peringatan haul ke-44 KHM Bisri Syansuri. (Pemprov Jatim)
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menghadiri peringatan haul ke-44 KHM Bisri Syansuri. (Pemprov Jatim)

Jombang, blok-a.com- Kiai asal Jombang ini layak dijadikan Pahlawan Nasional. Perannya begitu besar dalam masa perjuangan, resolusi jihad saat perang melawan penjajah Belanda, mengusir tentara NICA di Surabaya.

Tidak hanya itu, setelah Kemerdekaan perjuangannya juga sangat terasa dalam memajukan pendidikan pada kaum perempuan.

Sosok Kiai asal Jombang ini menjadi komandan dalam membantu mengkomunikasikan gerakan Hizbullah dan Sabilillah, saat para santri menerima resolusi jihad dari para kiai. Kiai ini juga merupakan sentral komando pergerakan pasukan.

Menjadi sosok Pahlawan Nasional, harus memenuhi kriteria yang sangat kuat. Bagaimana perannya dan kiprahnya dalam perjuangan kemerdekaan. Termasuk jika sampai pada masa pasca kemerdekaan.

Rekaman komprehensif bahwa mereka yang pernah berkontribusi pada proses pengorbanan, perjuangan dan perjalanan bangsa punya jejak sejarah yang bisa dijadikan teladan. Salah satunya menjadi prasyarat diangkat menjadi Pahlawan Nasional.

Untuk menjadi Pahlawan Nasional, ada persyaratan yang diatur dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.

Syarat Umumnya adalah WNI atau seseorang yang berjuang di wilayah yang sekarang menjadi wilayah NKRI.

Setia kepada NKRI, tidak berkhianat. Tidak pernah dinyatakan melanggar hukum pidana. Bersih. Berkelakuan baik. Dan syarat khusus lainnya. Jelas keturunannya dan bersih dari organisasi terlarang.

Sosok yang layak diangkat jadi Pahlawan Nasional dari kalangan kiai tak lain adalah KHM Bisri Syansuri.
Sosok kiai ini sudah diperingati kematiannya (Haul) ke-44.

Peninggalannya dalam bidang pndidikan adalah Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Kabupaten Jombang.

Selain itu KHM Bisri Syansuri memiliki peran yang luar biasa dalam proses perjuangan bagi bangsa dan negara baik saat pra maupun pasca kemerdekaan.

Belajar di Makkah

Sosok, KHM Bisri Syansuri  adalah seorang ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang lahir pada 18 September 1886 di Tayu, Pati, Jawa Tengah.

Semasa kecil, Bisri muda belajar pada KH Abd Salam, seorang ahli dan hafal Alquran dan juga ahli dalam bidang fiqih.

Di sana, ia belajar ilmu nahwu, saraf, fiqih, tasawuf, tafsir, hadits. Gurunya dikenal sebagai tokoh yang disiplin dalam menjalankan aturan agama.

Usia 15 tahun, mulai belajar ilmu agama di luar tanah kelahirannya, pada kedua tokoh agama yang terkenal yakni KH Kholil Kasingan Rembang dan KH Syu’aib Sarang Lasem.

Bisri muda juga berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Di pesantren inilah ia kemudian bertemu dengan KH Abdul Wahab Chasbullah, seseorang yang lanyas menjadi kawan dekatnya hingga akhir hayat di samping sebagai kakak iparnya.

Lalu Kiai Bisri berguru kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng.

Di pesantren itu, beliau belajar selama 6 tahun. Beliau memperoleh ijazah dari gurunya untuk mengajarkan kitab-kitab agama yang terkenal dalam literatur lama mulai dari kitab fiqih Al-Zubad hingga kitab hadits seperti Bukhari dan Muslim.

Pada 1912 sampai 1913, Bisri Syansuri berangkat melanjutkan pendidikan ke Makkah Arab Saudi, bersama KH Abdul Wahab Chasbullah.

Di kota suci  itu, mereka belajar kepada Syekh Muhammad Bakir Syekh Muhammad Said Yamani Syekh Ibrahim Madani, dan Syekh Al-Maliki. Juga kepada guru-guru Kiai Haji Hasyim Asy’ari, yaitu Kiai Haji Ahmad Khatib Padang dan Syekh Mahfudz Tremas.

Saat di Makkah, Kyai Bisri meminang adik dari KH Wahab Chasbullah yakni Nur Khodijah.

Pasca menikah keduanya tinggal dan menetap di Tambak Beras, Jombang. Mereka dikaruniai 9 orang anak yang salah satunya yakni Sholihah.

Sholihah menikah dengan Kyai Wahid Hasyim yang juga merupakan ayah dari Mantan Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Bersama sang istri, KHM Bisri Syansuri mulai merintis pendirian pesantren di atas tanah milik pribadi yang terletak di Desa Denanyar pada 1917.

Buka Pesantren di Daerah Hitam

Sebelum adanya Pesantren Mambaul Maarif, Desa Denanyar merupakan daerah hitam.

Saat itu, warga di sana menjalani hidup tanpa mengindahkan kaidah moral dan ajaran Islam. Perjudian, perampokan, tindak kekerasan, perzinaan, dan perilaku maksiat lainnya menjadi pemandangan sehari-hari.

Kondisi inilah yang justru menyemangati pasangan Kiai Bisri Syansuri dan Nyai Hj Nur Khodijah dalam berdakwah.

Seiring bertambahnya waktu, pendekatan dakwah Kiai Bisri Syansuri dan Nyai Hj Nur Khodijah semakin diminati masyarakat, khususnya kaum wanita. Mereka mulai terbuka pandangannya.

Masyarakat mulai memahami bahwa dalam ajaran Islam kedudukan wanita dimuliakan. Sejak saat itu, Pesantren Mambaul Maarif bukan hanya tempat kaum pria mendalami agama Islam, tetapi juga bagi kaum wanita. Dari situlah cikal bakal lahirnya Pondok Pesantren Putri Mambaul Maarif.

Melihat itu, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mendukung pengajuan gelar pahlawan nasional untuk Kiai Bisri.

Pengajuan tersebut harus bersih dari kepentingan keluarga atau dzurriyat. Melainkan hal itu menjadi bagian penting dari catatan perjalanan sebuah bangsa.

“Saya tadi komunikasikan dengan Staf Khusus Menkopolhukam karena Pak Menkopolhukam adalah ketua dewan gelar. Hal ini untuk mengetahui sejauh mana proses pengajuan tersebut dilakukan. Karena jika ada kekurangan dokumen, kami akan lengkapi,” tuturnya.

Karena bukan untuk kepentingan keluarga KHM Bisri Syansuri, melainkan untuk menjadi rekaman komprehensif tokoh yang pernah berkontribusi berupa pengorbanan, perjuangan dalam perjalanan bangsa punya jejak sejarah yang bisa dijadikan teladan.

Kemudian, menurutnya jika tidak diajukan sebagai pahlawan nasional maka dokumen perjalanan perjuangan beliau sekadar sebagai dokumen keluarga dan PP Mambaul Maarif.

Tetapi jika sebagai pahlawan nasional akan tercatat dalam jejak sejarah bangsa yang menjadi dokumen nasional sehingga dapat diteladani oleh seluruh warga bangsa.

“Bahkan sering tamu-tamu kepala negara lain jika melakukan kunjungan ke suatu negara mereka ke makam pahlawan sebagai bentuk penghornatan. Di sinilah harapannya catatan rekam jejak sejarah KHM Bisri Syansuri bisa terdokumentasikan,” jelasnya

Gubernur juga mengingatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.(kim/lio)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com