Menengok Isi Pikiran Gen Z di Malang Dalam Memberikan Suara di Pemilu 2024

Ilustrasi : Gen Z yang berjumlah banyak (foto : Widya Amalia/Blok-A)

Kota Malang, blok-a.com– Pesta demokrasi semakin dekat, Gen Z disebut-sebut bakal sumbang suara paling besar. Banyak tanggapan dari Gen Z soal hal tersebut. Mulai dari alasan dia memilih hingga tak mempan disuguhi berbagai wajah di baliho.

Salah satunya adalah animator muda di Kota Malang, Karina, yang berusia 22 tahun. Salah satu Gen Z di Malang ini menyebut, memang akan turut andil dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 mendatang. Namun, soal pilihan, dia tak mau ambil pusing.

“Aku sih milih nanti, tapi ikut pilihan papa,” katanya, pada (22/12/2023).

Wanita berambut panjang ini menyebut, dia kebingungan soal pasangan calon (paslon) calon presiden dan wakil presiden (wapres) yang berkompetisi dalam Pemilu 2024. Bahkan, usai melihat debat capres dan cawapres, dia tidak merasa terwakilkan.

“Aku nggak relate aja sama yang mereka omongin. Dan kebijakan apa pun aku nggak terlalu merasakan sih,” ujar dia.

Ketika bicara soal politik, Karina memilih untuk menghindar. Selain tidak memiliki ketertarikan, namun dia hanya memandang politik sebatas acara tahunan saja.

Meski demikian, Karina tetap diajak sang ayah untuk terlibat dalam pemilu. Pasalnya, mereka takut apabila tidak turut memilih, maka surat suara yang tersisa akan dimanfaatkan oleh orang tak bertanggung jawab.

“Kalo kata papa itu, kalau nggak milih nanti data dan surat suara kita akan dimanfaatkan sama orang. Jadi lebih baik diambil hak kita,” ujar dia.

Soal pemilihan legislatif, Karina akan memilih tetangganya saja yang kebetulan sedang mencalonkan diri. Pasalnya, lebih baik memilih yang dikenal daripada mencoblos secara acak. Di daerah Karina tinggal, yakni di Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, ada dua tetangganya yang mencalonkan diri.

Ketika ditanya soal baliho alat peraga kampanye (APK), Karina mengaku tidak ada yang memilih satu pun dari mereka. Pasalnya, Karina tidak mengenal siapa sosok yang terpampang di baliho itu.

“Ya gimana aku nggak kenal soalnya, lebih baik pilih tetangga,” kata dia.

Karina sendiri memang sempat ingin memilih salah satu paslon karena konten di media sosial. Ya, Karina suka dengan kucing. Sehingga, konten salah satu paslon yang dekat dengan kucing telah mencuri hatinya.

“Tapi karena aku nggak tahu orangnya, aku suka kontennya aja. Pilihan di Pemilu tetap ikut papa,” kata dia.

Di lain sisi, seorang warga Jalan Bango, Reyhan, tengah bersiap menjadi pemilih secara perdana. Lelaki berusia 20 tahun ini menyebut akan menggunakan hak pilihnya pada Februari 2024 mendatang. Dia tengah mengumpulkan berbagai informasi terkait ketiga paslon.

“Biasanya aku nonton rangkuman debat dari Narasi, atau media lain. Sering juga melakukan diskusi dan mendengarkan opini orang-orang,” kata Reyhan.

Meski demikian, dia mengaku kebingungan dan belum menentukan dimana hak pilihnya akan berlabuh. Pasalnya, dia merasa masing-masing paslon memiliki kekurangan. Tidak ada yang masuk dalam ranah idealnya. Ada paslon yang tidak memiliki pencapaian baik dalam kinerja, ada paslon yang terjegal skandal hukum dan usia, juga partai yang ingin dihindari Reyhan dan berbagai blunder lainnya.

Reyhan, sebagai pemilih perdana, menyebut memang hal itu cukup menjadi tantangan. Sehingga dia sangat berhati-hati dalam mencerna informasi bersifat politik. Bahkan, dia menghindari konten-konten provokasi politik di akun sosial medianya.

Untuk pilihan legislatif, lanjut dia, Reyhan tidak terlalu peduli. Pasalnya, dia masih menganggap bahwa siapa saja yang akan dipilihnya tidak berpengaruh.

“Soalnya sepemahamanku itu legislatif yang dipilih ya dari partai yang menang di pilpres. Jadi meski ada baliho, banner, atau apa, aku nggak peduli amat,” bebernya. (mg2/bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com