Lebih Dekat dengan Sosok Ebiet G. Ade, Sang Maestro Musik Kehidupan di Museum Musik Dunia

Patung Lilin Ebiet
Patung Lilin Ebiet G. Ade di MMD. Foto: Aga

KOTA BATU – Museum Musik Dunia di Jatim Park 3 tidak tanggung-tanggung dalam memberikan tribut kepada musisi-musisi legendaris dunia. Salah satu musisi yang patung lilinnya ada di sana adalah pencipta lagu “Berita Kepada Kawan”, Ebiet G. Ade.

Ebiet G. Ade merupakan seorang musisi legendaris Indonesia yang telah dikenal selama beberapa abad sampai saat ini. Setelah berkali-kali ditolak di berbagai label rekaman, ia pertama kali diterima di Jackson Record pada tahun 1979.

“Ini patung Ebiet G. Ade, salah satu maestro musik Indonesia. Di Museum Musik Dunia kita punya sosoknya dalam patung lilin dengan ciri khasnya yang bernyanyi sambil duduk dan berpenampilan seperti orang biasa,” terang Donny, Marketing Museum Musik Dunia JTP 3.

Ebiet pertama kali belajar gitar dari kakaknya, Ahmad Mukhodam, lalu belajar gitar di Yogyakarta dengan Kusbini. Atas dorongan para sahabat dekatnya dari PSK (Persada Studi Klub oleh Umbu Landu Paranggi), akhirnya Ebiet G. Ade bersedia juga maju ke dunia belantika musik Nusantara.

Lagu-lagunya yang khas dengan cerita-cerita sedih menjadi tren baru di khansa musik pop Indonesia. Ebiet G Ade kemudian sempat merajai dunia musik pop Indonesia di kisaran tahun 1979-1983.

Ebiet mengerjakan rekaman di Jackson Record selama kurang lebih 7 tahun. Pada tahun 1986, label itu tutup dan Ebiet G. Ade terpaksa keluar. Ia sempat mendirikan label sendiri EGA Records, yang memproduksi 3 album, Menjaring Matahari, Sketsa Rembulan Emas, dan Seraut Wajah.

Sebagian besar lagu Ebiet G. Ade didasarkan dari cerita sedih mengenai bencana. Di bulan Juni 1978, ia menulis “Berita kepada Kawan” setelah bencana gas beracun di Dataran Tinggi Dieng.

Pada tahun 1981, ia menulis dan merilis “Sebuah Tragedi 1981” mengenai tenggelamnya KMP Tampomas II di Kepulauan Masalembu. Setelah letusan Gunung Galunggung pada 1982, ia juga menulis “Untuk Kita Renungkan”. Lagu “Masih Ada Waktu” juga didasarkan saat kejadian kecelakaan kereta api Bintaro.

Dengan keberadaan patung lilinya di Museum Musik Dunia, Ebiet G. Ade dan karya-karyanya akan selamanya diingat oleh semua generasi. Selain itu, Museum Musik Dunia yang juga selalu memperbaharui koleksinya juga membuat pengunjung akan bertemu dengan sosok patung Ebiet G. Ade kapanpun diinginkan.

Exit mobile version