Blok-A.com – Pemerintah kini tengah menggencarkan pemakaian kompor listrik. Hal ini sebagai salah satu upaya untuk menekan impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) dan mengoptimalkan pemanfaatan listrik yang tengah berlebih.
Pemerintah mengkonversi penggunaan gas LPG 3 Kilogram ke kompor listrik merupakan program yang dilakukan secara bertahap, hal ini dasampaikan langsung oleh Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto.
Dari penjelasan Airlangga, pemerintah hanya bisa melakukan percobaan sementara dan belum bisa melaksanakan program tersebut dalam tahun 2022, karena belum ada pembahasan bersama DPR.
“Pemerintah belum memutuskan terkait program konversi kompor LPG 3 Kilogram menjadi kompor listrik induksi. Namun, dapat dipastikan bahwa program ini tidak akan diberlakukan di tahun 2022,” ungkap Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.
Dalam tahap uji coba, Pemerintah telah mengglontorkan sebanyak 2 ribu unit prototype di Bali dan Solo.
Menurut rencana, Pemerintah juga akan membagikan 300 ribu paket kompor listrik graris untuk masyarakat.
“Hasil dari uji coba ini akan dilakukan evaluasi dan perbaikan-perbaikan. Pemerintah akan menghitung dengan cermat segala biaya dan risiko, memperhatikan kepentingan masyarakat, serta mensosialisasikan kepada masyarakat sebelum program diberlakukan,” tambahnya.
Program kompor induksi dengan melakukan pemberian paket kompor induksi kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) untuk menggantikan penggunaan kompor LPG 3kg.
Disisi lain pengamat energi, Mamit Setiawan menilai kebijakan ini merupakan suatu upaya pemerintah untuk menghemat anggaran.
Pasalnya, sebanyak 70 hingga 80 persen dari pengadaan gas LPG 3 kg ini berasal dari impor, sehingga harganya seringkali berfluktuasi karena dipengaruhi oleh harga minyak dunia dan kurs mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Dengan demikian, ketika program konversi ke kompor induksi tersebut berjalan, maka pelanggan yang disasar hanya masyarakat yang memiliki golongan daya listrik 450-900 volt ampere (VA) agar anggaran subsidi energi menjadi lebih tepat sasaran.
Lebih jauh Mamit menjelaskan, berdasarkan perhitungan yang dilakukannya memang akan jauh lebih hemat menggunakan kompor induksi dibandingkan kompor yang menggunakan gas LPG 3 kg, meskipun perbedaannya tidak signifikan.
Terpisah, PT PLN (Persero) sempat menyebut program peralihan kompor LPG 3 Kg ke kompor induksi atau kompor listrik rumah tangga dapat menghemat anggaran pendapatan dan belanja (APBN) dan impor LPG 3 kg hingga triliunan.
Mengutip data RDP Komisi VII dengan PT PLN (Persero) konversi LPG ke kompor induksi dalam skala besar dapat memberikan penghematan APBN mencapai Rp 330 miliar per tahun untuk 300 ribu KPM, dan Rp 5,5 triliun per tahun untuk 5 juta KPM.
Sebelumnya juga sudah dilakukan piloting project, di Solo dan Bali pada 2×1.000 Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Menurut PLN, tidak ada penolakan dari pelanggan.
Namun disisi lain, penggunaan kompor listrik akan sangat terkait jumlah daya terpasang di setiap rumah tangga. Pasalnya, kompor listrik membutuhkan daya yang cukup tinggi, setidaknya 900 VA.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif pun akhirnya angkat suara. Arifin mengakui bahwa penggunaan kompor listrik membutuhkan kapasitas terpasang listrik yang cukup besar, sehingga ini kemungkinan baru bisa digunakan oleh masyarakat kelas menengah ke atas.
Oleh karena itu, pemerintah akan melakukan percobaan program konversi LPG ke kompor listrik untuk masyarakat golongan menengah ke atas. Ia pun mengakui, untuk pelanggan listrik berdaya 450 VA harus ditambah terlebih dahulu daya listriknya jika ingin menggunakan kompor listrik.
“Harus ditambah dayanya,” jelas Arifin, saat ditanya kemungkinan pelanggan 450 VA menggunakan kompor listrik.
Ia mengatakan, pihaknya tengah melakukan uji coba konversi LPG ke kompor listrik ini, dengan daya 900 VA dan 2.200 VA. (ptu/bob)










Balas
Lihat komentar