Kota Malang, blok-a.com – Kesadaran masyarakat terkait dengan membuang sampah pada tempatnya masih cukup rendah di Kota Malang. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya tumpukan sampah di sekitar area Jembatan Pasar Gadang.
Hal itulah yang mendasari seorang warga Jalan Rajasa, Kecamatan Kedungkandang bernama Moch Zainullah (42) mendirikan pos pantau sebagai tempat bersiaga melarang oknum masyarakat yang masih membuang sampah di Jembatan Pasar Gadang.
Berbekal rokok di tangan dan secangkir kopi, ia ditemani dengan teman setianya, Ambon (37) bersiaga di posko yang didirikannya untuk menghadang dan melarang dengan tegas para oknum masyarakat yang masih ngeyel buang sampah di Jembatan Pasar Gadang.
Zainul, sapaan akrabnya menceritakan awal-awal dirinya memiliki inisiatif mendirikan posko pantau sebagai upaya mencegah oknum yang membuang sampah di kawasan ini. Ia mengaku terganggu dengan bau menyengat yang setiap hari dihirupnya.
“Awal mulanya itu, kan sekarang musim hujan, saya di dapur itu kok bau. Apakah septitank rumah saya jebol, ternyata enggak. Setelah saya telusuri ternyata bau sampah yang ada di jembatan,” kata Zainul, Jumat (31/1/2025).
Setelah itu, Zainul langsung menuju lokasi Jembatan Pasar Gadang yang berjarak sekitar 20 meter dari rumahnya. Begitu tercengangnya Zainul melihat tumpukan sampah yang berjejer dan menganggu pandangan matanya.
“Saya sekitar jam 19.00 setelah sholat isya duduk disini (Posko), sampahnya sampai sini. Orang-orang ini saya lihat bukan warga sekitar sini, kurang ajar orang-orang ini,” tambahnya.
Ia mengungkapkan, di daerah Kelurahan Bumiayu, para warga sepakat memakai jasa petugas kebersihan keliling untuk mengangkut sampah rumah tangga yang dihasilkan. Maka dari itu, ia merasa mempunyai tanggung jawab untuk menjaga kebersihan di sekitar kawasan Jembatan Pasar Gadang.
Untuk itu, ia sempat mengusulkan tenda kepada Lurah setempat. Namun karena terkendala birokrasi, hal itu tidak dapat diwujudkan.
Pada akhirnya, kata Zainul, memperoleh bantuan tenda dari seseorang. Zainul mengungkapkan, posko awal ini didirikan pada Jumat (24/1/2025) lalu.
“Akhirnya ada seseorang yang membantu persoalan tenda ini. Saya yang jaga,” jelasnya.
Saat sedang meladeni wawancara blok-a.com, terlihat oknum warga dengan membawa sepeda motor akan membuang sampah dengan bungkus kresek di jembatan, sontak hal itu membuat Ambon berlari sambil berteriak “he he he, sampahne digowo,” teriak Ambon.

Teriakan dari Ambon sendiri ternyata efektif untuk membuat oknum masyarakat tersebut kembali membawa sampahnya menuju arah barat dan gagal membuang sampah di jembatan.
Zainul menambahkan, kejadian seperti ini sudah berulangkali dialaminya bersama Ambon. Bahkan, ia mengaku beberapa kali bersitegang dengan oknum-oknum itu.
“Ya seperti itu, kalau tidak ada yang jaga disini pasti langsung ditaruh di situ,” tukasnya.
Pada intinya, Zainul menegaskan akan tetap menjaga kebersihan dan kenyamanan lokasi. Ia berprinsip, selama apa yang dilakukan benar, Zainul tak memperdulikan jika harus bersitegang dengan para oknum itu.
“Tak beranikan, tak bulatkan tekad untuk menjaga kebersihan di jembatan,” bebernya.
Zainul menerangkan, ia berjaga bersama Ambon hingga pukul 03.00 atau menjelang waktu Shubuh tiba. Dan di saat ia pulang menuju rumahnya untuk melaksanakan ibadah, di saat itulah Zainul mengaku kerap beberapa kali kecolongan dengan oknum yang masih melakukan aksi tidak terpuji ini.
“Sampah di sini habis (solat) shubuh adanya tumpukan. Kalau tidak ada yang jaga, pasti ada kembali tumpukan sampah. Pernah itu setelah habis solat saya coba cek lagi kesini, baru sebentar saja sudah banyak lagi. Itu malah bikin saya geregetan,” jelasnya.
Selain itu, Zainul mengungkapkan mayoritas oknum yang membuang sampah ternyata bukan masyarakat sekitar Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang. Ia pernah menginterogasi seorang oknum yang mengaku berasal dari daerah di Kabupaten Malang yang jaraknya jauh dari Kota Malang.
“Bukan orang sini. Yang buang sampah itu yang saya tangkap itu orang Turen, terus Bululawang, Tajinan, Tlogowaru, Mburing. Ada satu warga Jalan Terong sisi utara sana. Kalau orang sini tidak ada, pedagang pasar sini pun juga tidak ada,” bebernya.
Zainul menceritakan yang biasanya sampah harus diangkut menggunakan dua unit kendaraan truk, setelah adanya pos pantau yang didirikannya ini hanya menggunakan kendaraan roda tiga jenis Tossa. Hal itulah yang menjadi kepuasan tersendiri bagi dirinya.
“Volume sampah berkurang banyak mas, yang biasanya satu hari mengangkut sampah menggunakan dua truk, lusa kemarin hanya satu truk. Bahkan, kemarin itu malah hanya bawa Tossa,” jelasnya.
Dengan begitu, Zainul berharap kepada oknum masyarakat yang masih membuang sampah di kawasan ini untuk segera meningkatkan kesadaran diri dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Tolong bagi para oknum yang masih membuang sampah disini jangan diulangi dan jangan pernah kembali,” tegasnya. (yog/bob)









