Pasuruan, blok-a.com – Di tengah kerumunan jemaah yang mengelilingi Ka’bah, seorang pria tampak mencuri perhatian. Bukan karena seragam mewah atau sorban besar, melainkan karena sosok renta di punggungnya.
Tangannya menggenggam erat, tubuhnya sedikit membungkuk menahan beban. Tapi wajahnya tenang, matanya penuh haru.
Dialah Zainal Abidin, warga Desa Tambakrejo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan. Perempuan yang digendongnya dengan penuh cinta adalah ibunya, Umi Hanik (80).
Momen itu terekam dalam sebuah video yang diunggah ke TikTok oleh akun @ojinvinito77, milik kakak Zainal.
Dalam hitungan jam, video itu viral. Ribuan warganet tersentuh, membanjiri kolom komentar dengan doa dan pujian atas bakti seorang anak yang tampak menggendong “surga”-nya sendiri.
“Saya baru tahu video itu viral dua hari lalu,” ujar Zainal, yang akrab disapa Ebit, saat ditemui pada Selasa (15/4/2025).
“Itu diunggah kakak saya, bukan saya. Saya hanya ingin menepati nazar,” lanjutnya.
Nazar itu bermula pada 2019, ketika Ebit bertekad membawa ibunya ke Tanah Suci. Namun, pandemi Covid-19 menghapus sementara harapan itu.
Di 2023, ia sempat berangkat sendiri karena kondisi sang ibu yang sakit parah. Di depan Kakbah, ia berdoa “Ya Allah, jika Engkau sembuhkan ibuku, aku akan kembali, membawanya ke sini.”
Doa itu tak sia-sia. Dua tahun berselang, kondisi sang ibu membaik. Meski harus dituntun, ia sudah bisa berdiri dan berjalan.
Tanpa ragu, Ebit menyiapkan perjalanan kedua. Pada 5 April 2025, mereka berangkat ke Makkah bersama, dalam keadaan sehat, meski dengan keterbatasan.
Tapi Ebit tak memilih kursi roda. Ia pun memilih menggendong ibunya.
“Saya ingin ibu merasakan tawaf, bukan hanya sekadar lewat. Saya ingin dia tahu rasanya mendekat ke Ka’bah, dalam pelukan anaknya,” ujarnya lirih.
Aksi itu bukan hanya menyentuh hati jemaah di sekitarnya, tapi juga menyampaikan pesan mendalam tentang bakti, tentang cinta tanpa batas, dan tentang surga yang terletak di bawah telapak kaki ibu.
“Semoga ini jadi pengingat bagi kita semua,” tulis salah satu warganet.
“Bahwa surga tidak perlu dicari jauh-jauh. Kadang ia hadir dalam bentuk sederhana: pelukan ibu, dan punggung anak yang rela menanggung segalanya demi cinta.”
Sehari-hari, Ebit adalah seorang sekretaris desa di kampung halamannya. Tapi di Tanah Suci, ia adalah seorang anak yang telah mengajarkan dunia bahwa beribadah bukan hanya soal rukun dan syarat. Tapi juga tentang ketulusan dan pengorbanan.(rah/lio)









