Kisah Penjaga Perlintasan Kereta Api di Malang Bertugas di Lebaran 2023, Kerap Kena Marah Pengendara

Kisah Penjaga Perlintasan Kereta Api di Malang Bertugas di Lebaran 2023, Kerap Kena Marah Pengendara
Kisah Penjaga Perlintasan Kereta Api di Malang Bertugas di Lebaran 2023, Kerap Kena Marah Pengendara (blok-a/Mike)

Kota Malang, blok-acom-Peran petugas penjaga perlintasan kereta api tidak bisa dianggap remeh, terutama pada saat arus mudik dan balik lebaran tiba.

Tidak hanya untuk menjaga keamanan masyarakat, tetapi juga sebagai faktor penting dalam perjalanan kereta api.

Eko adalah salah satu dari banyak petugas penjaga perlintasan kereta api yang bertugas di perlintasan KA di Jalan Zainal Zakse, Kelurahan Jodipan, Kota Malang.

Jalur ini juga berfungsi sebagai penghubung untuk kereta-kereta jarak jauh menuju arah barat, seperti Yogyakarta, Semarang, Cirebon, Bandung, dan Jakarta.

Beberapa kereta seperti KA Gajayana, KA Matarmaja, KA Bima, KA Brawijaya, dan KA Malioboro Ekspres berangkat dari Kota Malang dan menuju beberapa stasiun di wilayah barat Pulau Jawa.

Selain itu, terdapat juga sejumlah kereta api lokal yang membuat hampir setiap jamnya ada tiga sampai lima kereta api yang melintas.

KA Tawangalun, sebuah kereta api aglomerasi dengan relasi Stasiun Malang Kota Lama hingga Stasiun Ketapang Banyuwangi, juga melewati palang pintu resmi yang dijaga oleh Eko.

Selain kereta api yang mengangkut penumpang dan barang, terdapat satu kereta api yang sering melintas, yaitu KA Pengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Terminal Pertamina Malang yang terletak di Jalan Halmahera.

Di sisi lain, Jalan Zainul Zakse adalah salah satu jalur lalu lintas yang sangat ramai.

Terletak di sekitar perlintasan kereta api, jalan provinsi ini menghubungkan Malang dengan Blitar serta beberapa daerah di selatan Pulau Jawa.

Oleh karena itu, ketika palang pintu perlintasan KA ditutup dalam waktu yang lama, seringkali terjadi kemacetan lalu lintas di sekitar daerah tersebut.

Selain itu, pada saat musim libur lebaran seperti sekarang, Eko juga mengalami kesulitan dalam menjalankan tugasnya karena terjadinya penambahan volume kendaraan di sekitar lokasi perlintasan KA.

Terutama saat jam-jam tertentu, seperti pagi hari dan sore hari ketika masyarakat berangkat dan pulang kerja, lalu lintas menjadi semakin padat dan menyulitkan Eko dalam membuka dan menutup palang pintu perlintasan KA dengan cepat dan aman.

“Dalam situasi lebaran seperti sekarang, jadwal keberangkatan kereta api cenderung meningkat karena adanya kereta lebaran yang dioperasikan,” kata Eko salah seorang penjaga palang pintu kereta api Minggu (23/4/2023) Malam.

Selain itu, keputusan pemerintah untuk memperbolehkan mudik tanpa batasan juga membuat antusiasme masyarakat naik kereta semakin tinggi.

“Hal ini tentu berdampak pada kepadatan lalu lintas di sekitar perlintasan kereta api, termasuk di lokasi saya berjaga,” ujarnya.

Umumnya, Eko bisa memperkirakan sendiri waktu tiba kereta api karena jadwalnya teratur dan kami sudah hafal.

“Namun, jika ada keterlambatan karena sesuatu hal, biasanya pihak stasiun terdekat memberikan pemberitahuan kepada saya sebagai penjaga palang pintu,” kata dia.

Setelah kereta api melintas, Eko harus membuat laporan tertulis dan mengirimkan foto ke pengatur perjalanan kereta api di stasiun terdekat sebagai bagian dari SOP.

“Sejak arus mudik diperbolehkan, saya rasa adanya kesibukan ekstra dalam mengatur alur palang pintu perlintasan kereta api agar perjalanan kereta api dan pengendara jalan dapat berlangsung dengan aman dan selamat,” jelasnya .

Selama lebaran, Eko harus tetap bertugas kadang pukul 06.00 WIB ataupun sekitar jam 16.00 WIB.

Meskipun telah terbiasa dengan tugasnya, istri dan anaknya mungkin terbiasa ditinggalkannya untuk melayani para pemudik.

“Saya sudah terbiasa dengan tugasnya, termasuk di hari raya,” imbuhnya.

Meskipun itu artinya ia tidak bisa ikut salat Idul Fitri, karena harus bertugas di pagi hari.

Baginya, tugasnya sebagai petugas penjaga perlintasan kereta api adalah sebuah ibadah dalam melayani masyarakat.

Hal itu menjadi motivasi baginya untuk tetap semangat dalam menjalankan tugasnya, meski harus melewatkan momen penting seperti salat Idul Fitri bersama keluarga.

Eko mengatakan bahwa tugasnya akan bertambah pada mudik lebaran ini karena terjadi penambahan perjalanan kereta api, terutama untuk KA yang mengangkut BBM menuju Terminal Pertamina Malang.

Selama 8 jam shift jaga, Eko mencatat bahwa setidaknya 20 kereta api akan melintas di perlintasan kereta api di Kota Malang tersebut.

Pada umumnya, satu shift berlangsung selama 8 jam dan tidak boleh lebih.

“Saya jika dapat shift pagi dari pukul 05.45 WIB hingga pukul 15.00 WIB,” terangnya.

Dalam satu shift, biasanya ada sekitar 16 hingga 20 kereta api yang melintas.

“Pada tahun 2019 lalu, terdapat penambahan dua jadwal keberangkatan kereta api, namun untuk tahun 2023 ini sepertinya belum ada penambahan jadwal baru,” kata Eko.

Eko menjelaskan bahwa dia sering kali mendapatkan marah dari warga karena terkadang ia menutup palang pintu perlintasan kereta api dalam waktu yang lama.

Namun, sebagai orang Jawa, ia sudah biasa dengan perlakuan seperti itu.

“Warga sering kali merasa kesal karena terburu-buru di jalan, tetapi saya tidak peduli dengan itu,” bebernya.

Baginya, keselamatan semua orang adalah yang utama, dan tugasnya sebagai petugas perlintasan kereta api adalah melayani kereta api dengan mengikuti SOP yang ada.

“Saya tidak memedulikan orang yang ingin melewatinya, jika ada kereta api yang akan lewat maka saya akan menutup palang pintu,” jelasnya.

Ini sudah diatur dalam undang-undang dan SOP yang berlaku.

“Tidak peduli siapa yang meminta, bahkan jika itu presiden atau wakil presiden, jika ada kereta api maka harus berhenti dan tidak boleh berjalan,” tandasnya. (mg1/bob)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?