Kisah Pembangunan Pasar Besar Malang di Tahun 1920

Tampak dari depan bangunan Pasar Besar Malang. (blok-a.com/Yogga Ardiawan)
Tampak dari depan bangunan Pasar Besar Malang. (blok-a.com/Yogga Ardiawan)

Kota Malang, blok-a.com – Berbicara tentang Pasar Besar Kota Malang, berarti menelusuri jejak sejarah yang panjang. Dari pasar partikelir yang dikelola masyarakat Tionghoa di awal abad ke-20 hingga menjadi pusat perekonomian kota, pasar ini telah melewati berbagai transformasi yang mencerminkan dinamika sosial dan ekonomi Malang.

Awal Mula: Dari Pasar Partikelir ke Sentra Perdagangan

Pasar Besar bukan sekadar tempat jual beli, tetapi juga simbol keberagaman masyarakat Malang. Pemerhati sejarah dan budaya Kota Malang, Agung Buana, mengungkapkan bahwa pasar ini awalnya dikelola oleh komunitas Tionghoa sebelum akhirnya berubah status pada tahun 1919.

“Pasar Besar Kota Malang dahulu merupakan pasar swasta atau pasar partikelir yang dikelola masyarakat etnis Tionghoa hingga tahun 1919,” kata Agung.

Ketika Pemerintah Kota Praja Malang berencana membangun pasar sentral di sekitar Pasar Splendid pada 1920-an, muncul perbedaan pendapat. Pedagang Tionghoa dan Arab mengusulkan lokasi lain, yakni Pasar Pecinan, bahkan menawarkan pendanaan 20 ribu golden. Namun, pemerintah Belanda menolak bantuan tersebut dan tetap membangun pasar yang kemudian dikenal sebagai Pasar Pecinan.

Pasar ini dibangun mulai tahun 1920 dan rampung pada 1924 dengan biaya 547 ribu golden. Saat itu, Pasar Besar masih berupa bangunan satu lantai yang menjadi pusat aktivitas ekonomi, menjual berbagai kebutuhan mulai dari bahan pangan hingga pakaian.

Masa Keemasan di Era Kolonial

Pasar Besar semakin berkembang ketika pada tahun 1938, pemerintah Belanda membangun struktur beton yang lebih kokoh dan modern. Tak hanya itu, terminal angkutan untuk orang dan barang juga didirikan di belakang pasar guna memperlancar distribusi perdagangan.

“Pendapatan terbesar pemerintah saat itu berasal dari Pasar Besar ini, dengan rata-rata pemasukan tahunan mencapai 100 ribu golden. Ekonomi di sini bergerak sangat cepat,” jelas Agung.

Tak berhenti di situ, pemerintah Belanda juga membangun sejumlah pasar lain di Malang, seperti Pasar Bunul, Pasar Kebalen, Pasar Oro-Oro Dowo, Pasar Embong Brantas, dan Pasar Lowokwaru.

Transformasi dan Badai Kebakaran

Pasar Besar terus berkembang. Pada tahun 1973, bangunan ini direnovasi menjadi dua lantai. Namun, sejarah panjangnya juga diwarnai tragedi kebakaran. Tahun 1985, kebakaran besar melanda, sehingga pasar direnovasi kembali menjadi empat lantai pada 1989.

Revitalisasi terakhir dilakukan pada 1991, tetapi kebakaran terus menghantui. Pasar Besar mengalami musibah serupa pada 2003, 2014, dan 2016, meninggalkan luka bagi pedagang dan masyarakat Malang.

Harapan untuk Revitalisasi Masa Depan

Kini, rencana revitalisasi Pasar Besar kembali digulirkan. Agung berharap pasar ini tetap mempertahankan sentuhan heritage yang mencerminkan jejak sejarahnya.

“Namun dari segi fungsi, tentu perlu memperhatikan perkembangan masa kini. Pasar tak hanya untuk berdagang atau jual beli lagi, tapi perlu ada sisi interaksi sosial atau ruang publik. Entah untuk pertunjukan seni budaya atau lainnya,” ujarnya.

Dulu, pasar tak hanya tempat transaksi, tetapi juga ajang hiburan. “Di era Belanda dulu, di pasar ini biasa ada pertunjukan tayub, ledek, sampai sulap,” tambahnya.

Menurutnya, Pemerintah Kota Malang juga harus memastikan para pedagang bisa mengikuti perkembangan zaman, agar semua kalangan tertarik datang ke pasar.

“Penjualan tradisional harus tetap ada, tapi beri sentuhan yang bisa menghidupkan pasar hingga 24 jam. Karena Malang punya aktivitas ekonomi yang tak pernah berhenti,” kata Agung.

Pasar yang bersih, modern, dan menarik diyakini bisa mengundang minat generasi muda. “Nanti anak-anak muda datang ke pasar, mungkin bukan untuk beli sayuran, tapi karena pasarnya nyaman dan seru,” pungkasnya. (yog/bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com