Ilustrasi Mpu Sindok (ist.)
Ilustrasi Mpu Sindok (ist.)

Kampung Tertua di Kota Malang, Namanya Berasal dari Orang Dekat Mpu Sindok

Kota Malang, blok-a.com – Jarang diketahui, ada kampung tertua di Kota Malang yang namanya berasal dari orang dekat Mpu Sindok.

Mpu Sindok waktu itu menjadi raja di Kerajaan Mataram yang berada di Jawa Timur.

Kampung tertua di Kota Malang itu berada di kawasan Kelurahan Bunulrejo sekarang.

Bunulrejo itu didapat namanya dari seorang pemuda yang bernama Sang Bulul.

Sang Bulul atau Bulul inilah yang menjadi muasal nama Bunulrejo atau biasa disebut Bunul.

Bulul menjadi orang dekat dari Mpu Sindok karena mendapat penghargaan. Hal itu tertulis di tulisan Arca Ganesya pasa tahun 856 saka atau 944 masehi.

Sejarawan UM, Dwi Cahyono menjelaskan, di arca tersebut dijelaskan bahwa Mpu Sindok memerintahkan Rakai Kanuruhan yang waktu itu dijabat Dyah Mumpang untuk memberi anugerah ke Bulul.

Bulul menjadi tokoh lokal yang membuat Mpu Sindok terkesan waktu itu.

“Rakai Kanuruhan itu daerah yang ada di bawah Mataram di Jawa Timur. Dan Mpu Sindok itu memerintahkan yang menjabat saat itu Dyah Mumpang untuk memberi anugerah atas namanya,” jelasnya.

Dwi Cahyono sendiri tidak bisa menjelaskan secara pasti jasa apa yang diberikan Bulul hingga diberikan penghargaan oleh Mpu Sindok.

Namun dia memperkirakan bahwa Bulul adalah orang berjasa ke Mpu Sindok.

Sayangnya referensi tentang ketokohan Bulul ini tidak ada jejak sejarahnya.

“Tapi kemungkinan Bulul ini berjasa babat alas kerajaan yang waktu itu Ibu Kota pertamanya berada di Malang,” jelasnya.

Kemungkinan kedua, Bulul diberi penghargaan karena dipercaya sebagai penjaga sejumlah bangunan suci di daerah Bunulrejo.

“Banyak bangunan suci di sana akhirnya diberi penghargaan ke tokoh yang ada di Bunulrejo itu,” jelasnya.

Sementara itu, bentuk penghargaannya sendiri berupa sebuah tanah. Tanah itu dijadikan sebagai taman bunga di Bunulrejo.

Adapun lokasinya diduga di TPU Ngujil saat ini.

Dwi Cahyono menjelaskan, taman bunga itu diberikan kemungkinan untuk menghemat saat ritual-ritual diadakan.

Biasanya saat ritual membutuhkan bunga atu kembang yang ditabur di bangunan suci.

“Nah taman ini dihadirkan untuk menyediakan bunga tabur itu supaya selalu ada,” jelasnya. (bob)