Ini Tujuan 20 Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan Diperiksa Propam Polri 2 Hari di Malang

tragedi kanjuruhan
Situasi saat pemeriksaan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan di Ballroom Mapolresta Malang Kota, Senin (19/12/2022) (blok-a/Bob Bimantara Leander)

Kota Malang, blok-a.com Div Propam Polri memeriksa sembilan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan di Mapolresta Malang Kota, Senin (19/12/2022).

Tujuan dari pemeriksaan ini untuk menindaklanjuti pengaduan yang diadukan keluarga korban pada 19 November 2022 lalu.

Isi aduan itu terkait dugaan pelanggaran kode etik pihak kepolisian saat mengamankan pertandingan Arema FC Vs Persebaya Sabtu (1/10/2022). Selain itu juga mengadukan pihak penyidik dari Polda Jatim yang diduga tidak profesional dalam menangani kasus Tragedi Kanjuruhan.

“Aduan kami jelas yaitu Irjen Pol Nico Afinta harus bertanggungjawab terhadap terjadinya tragedi Kanjuruhan. Kami patut menduga bahwa Polda Jatim digawangi Direktorat Kriminal Umum Polda Jatim patut diduga tidak profesional melakukan sidik terhadap tragedi kanjuruhan,” tutur Biro Hukum Federasi Kontras sekaligus Tim Gabungan Aremania, Anwar Mohammad Aris di Mapolresta Malang Kota, Senin (19/12/2022).

Dugaan tidak profesional itu mencuat karena polisi hanya menjerat enam tersangka Tragedi Kanjuruhan saat ini dengan
Pasal 359 dan Pasal 360 KUHP terkait kesalahan yang menyebabkan kematian. Menurut Anwar dua pasal itu hanya menjerat orang yang bukan polisi.

Contohnya adalah Panpel. Sementara penembak gas air mata yang merupakan anggota polisi tidak termasuk.

“Lalu bagaimana dengan korban anak-anak seperti mas Vincent dari Kabupaten Malang. Itu anak usia 15 tahun. Kenapa tidak disertakan pihak-pihak yang melakukan tindak kejahatan pada Tragedi Kanjuruhan dengan menembakkan gas air mata dengan UU Perlindungan Anak,” imbuhnya.

Selain itu, Anwar menjelaskan, aduan itu juga berisi bahwa musti ada tanggung jawab dari Kapolda Jatim, Irjen Pol Nico Afinta.

Dia menilai ada penganiayaan yang sistematis saat Tragedi Kanjuruhan berlangsung.

Penganiayaan itu pun terjadi karena ada rantai komando. Seharusnya pemagang tongkat komando tertinggi di lapangan waktu itu Irjen Pol Nico Afinta mengetahui siapa yang dan di lapangan dan peraturan untuk mengamankan jika terjadi kekacauan.

“Masa sekelas Irjen Pol Nico Afinta mengatakan bahwa gas air mata sudah sesuai prosedur ini jenderal macam apa,” kata dia.

Pemeriksaan ini berlangsung dua hari ini, Senin (19/12/2022) dan Selasa (20/12/2022). Total ada 20 orang dari keluarga korban yang diperiksaa.

Anwar berharap, pemeriksaan hari ini hasilnya bisa mendesak Mabes Polri untuk meneliti apakah memang anggotanya melanggar kode etik dalam mengusut kasus Tragedi Kanjuruhan.

“Ada pangkat, ada gas air mata, ada korban. Masa ancamannya cuma setahun. Itu pun kalau ditajan. Itu pun kaldu divonis satu tahun. Kami tidak mempermasalahkan hukimannya berapa. Yang kami permasalahkan profesionalitas Polri,” tutupnya. (bob)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?