Blok-a.com – Pemerintah bersama Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkap dugaan praktik curang dalam proses distribusi dan penjualan beras bermerk. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan, dari total 268 merek beras yang diperiksa, ada 212 merek yang tidak memenuhi ketentuan mutu, berat, dan Harga Eceran Tertinggi (HET) sesuai ketentuan pemerintah.
Latar belakang pemeriksaan ini karena Amran melihat kenaikan harga beras yang tidak selaras dengan produksi nasional. Padahal berdasarkan data FAO, produksi beras Indonesia lebih tinggi dari target nasional. Seharusnya harga beras tidak bergitu tinggi karena jumlah produksi tinggi, stok melimpah, tidak seperti dulu yang stoknya sedikit sehingga harga beras naik.
Praktik pengemasan ulang beras subsidi dan dijual sebagai beras premium telah merugikan masyarakat secara besar-besaran.
Selain itu, beberapa merk diduga merupakan beras oplosan. Dengan mencampur beras bersama bahan lain, seperti jagung pipil atau dedak. Atau beras premium dicampur beras murah, bahkan beras rusak yang diproses ulang dengan pemutih atau pengawet.
Satgas Pangan Polri memanggil empat produsen beras untuk diperiksa. Keempat produsen tersebut yaitu Wilmar Group, PT Belitang Panen Raya, PT Sentosa Utama Lestari/Japfa Group, dan PT Food Station Tjipinang Jaya.
Lalu, bagaimana masyarakat bisa mengetahui beras tersebut beras oplosan atau bukan? Menurut Prof. Tajuddin Bantacut, pakar IPB, berikut ciri-ciri beras oplosan:
- Warna tidak serasi, misalnya ada putih cerah lalu ada putih kusam atau kekuningan. Beras asli atau premium biasanya putih alami atau sedikit transparan, warnanya pun serasi.
- Ukuran butiran berbeda-beda, misalnya ada butiran panjang dan pendek, atau ada banyak beras patah dalam satu kemasan. Beras premium ukuran butirannya sama panjang.
- Aroma tidak wajar seperti berbau apek, menyengat, atau seperti bau bahan kimia. Beras asli memiliki aroma segar khas padi.
- Tekstur setelah dimasak pun biasanya cenderung lembek, lengket berlebihan, hambar, bahkan cepat basi. Beras premium nasinya pulen, tanak, dan tidak cepat basi.
- Saat dicoba rendam ke air, beras oplosan airnya akan jadi putih pekat, cepat hancur, bahkan ada serbuk yang mengapung. Beras asli akan tetap jernih airnya, hanya sedikit keruh, butirannya juga tidak cepat hancur.
- Harga jauh di bawah pasaran, terutama jika kemasan tanpa label resmi.
- Kemasan dan label mencurigakan, seperti berat tidak sesuai, label tidak mencantumkan komposisi, tanggal produksi, atau SNI.
Waspadalah saat membeli beras, pilih yang berlabel resmi dan jelas. Hindari ciri-ciri beras seperti yang telah disebutkan di atas. (mg2/gni)








