Geger Warga Mojokerto Bongkar Makam, Diduga Palsu – Dibangun di Area Makam Leluhur

Geger Warga Mojokerto Bongkar Makam, Diduga Palsu - Dibangun di Area Makam Leluhur
Geger Warga Mojokerto Bongkar Makam, Diduga Palsu - Dibangun di Area Makam Leluhur

Mojokerto, blok-a.com – Geger dugaan makam palsu dijadikan sebagai upaya untuk mengaburkan sejarah leluhur di Mojokerto. Pemalsuan makam ini untuk mengaburkan sejarah untuk kepentingan kelompok tertentu.

Hal ini mendapat perhatian dari Komunitas budaya dan Pejuang Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI LS).

Bersama Pemerintah Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, PWI LS membongkar 11 makam yang dianggap palsu, pada Senin (13/1/2025). Makam-makam ini dibangun pada tahun 2018.

Adapun pembangunan makam palsu ini dikelola salah seorang yang diketahui bernama Habib Soleh dari Bogor. Sebagian makam palsu dibangun di bawah pendapa dekat dengan dua makam asli, yaitu makam Mbah Sagu dan Mbah Budiman. Semua makam berada di tanah kas desa Kumitir seluas 263 meter persegi.

Kepala Dusun Bendo, Desa Kumitir, Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Nirrawang Mahalila mengatakan, keputusan yang diambil dalam musyawarah Minggu malam (12/1/2025) bahwa keberadaan makam Mbah Sagu dan Mbah Budiman, sudah dikenal turun temurun berdasarkan penuturan para sesepuh Dusun Bendo.

Dalam sejarah masyarakat setempat, menegaskan bahwa kampung ini memang memiliki sejarah panjang yang perlu dihormati dan dijaga sebagai bagian dari warisan budaya dan tradisi.

“Makam-makam ini berada di dalam wilayah situs Kumitir. Yang mana di dalam situs ini terdapat makam asli Mbah Sagu dan Mbah Budiman, serta 11 makam lainnya yang dianggap palsu. Setelah melalui diskusi panjang, 11 makam palsu tersebut akhirnya dibongkar pada Senin, 13 Januari 2025 kemarin,” ungkap Nirrawang.

Tujuan pembongkaran makam-makam palsu ini adalah bagian dari upaya untuk menjaga keaslian situs sejarah dan memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai makam-makam yang ada di situs Kumitir.

Nirrawang juga mengatakan, pembongkaran makam palsu di situs Kumitir tersebut, terjadi setelah desakan dari PWI LS Kabupaten Mojokerto dan berbagai komunitas budaya, seperti Pendekar Darah Garuda Mojokerto, Aliansi Putro Wayah Majapahit, dan lainnya.

Proses ini cukup panjang, bersama Panglima Laskar Sabilillah Kabupaten Mojokerto, Athourrahman, yang menghabiskan waktu sekitar tiga pekan untuk berkoordinasi dengan pemerintah desa dan warga setempat.

Nirrawang Mahalila membacakan surat pernyataan dari Kepala Desa Kumitir. Dalam surat tersebut, Kepala Desa meminta maaf kepada LSM, Ormas, budayawan, dan khususnya PWI LS Mojokerto, karena sedang sakit dan tidak bisa hadir di lokasi.

Dalam surat tersebut, Kepala Desa juga menegaskan bahwa untuk pembersihan makam di luar pepunden Mbah Sagu dan Mbah Budiman diserahkan kepada desa, sesuai dengan hasil rapat warga yang dilaksanakan pada tanggal 7 Januari 2025.

Sementara itu, Athourrahman mengatakan, Habib Soleh membuat makam palsu hanya berdasarkan mimpi. Selain itu, Habib Soleh mengaku mendapatkan petunjuk atau narasumber dari sejumlah kiai. Namun, ketika pihaknya berniat mendatangi kiai tersebut, Habib Soleh berdalih kiai tersebut sudah wafat.

“Artinya, sejarah makam terputus sampai di situ. Jadi, ini tidak lagi indikasi, tapi memang benar makam palsu. Akhirnya saat musyawarah Habib Soleh bersedia makam dibongkar dan dikembalikan ke desa,” beber Athourrahman.

Athourrahman juga mengatakan, makam palsu tersebut diziarahi oleh banyak orang, terutama pengikut Habib Soleh, digunakan sebagai ajang untuk kegiatan spiritual seperti tahlil dan istigatsah.

Meskipun tampaknya kegiatan tersebut bernuansa positif, ada indikasi bahwa beberapa pihak mungkin memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meraih keuntungan materi, seperti dengan memungut biaya.

“Yang kami sayangkan di situ ada iuran, kotak amal yang tidak jelas ke mana. Setahu saya juga ada beberapa masyarakat yang dimintai iuran dana untuk membangun makam ini. Termasuk pihak desa diminta sekitar Rp 30 juta, tapi desa paham prosedur sehingga tak sampai memberi dana desa ke Habib Soleh,” tambahnya.

Begitu menjadi polemik, mereka meninggalkan. Habib Soleh juga pernah tinggal di desa ini, tapi sudah pindah entah ke mana.

Athourrahman berharap tidak ada lagi makam-makam palsu di Bumi Majapahit. Dan tidak ada lagi makam-makam palsu yang menyelewengkan sejarah leluhur dan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Karena leluhur kita sudah jelas, bukan dari mimpi.(sya/bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com