KOTA BATU – Eco Green Park memiliki ratusan koleksi burung yang bebas beterbangan di exhibit-nya. Selain burung hidup, ada juga beberapa burung yang diawetkan, seperti burung Martial Eagle di Bird Galery.
Burung Martial Eagle (Polemaetus bellicosus) adalah elang besar asli sub-Sahara Afrika. Di sub-Sahara Afrika, Martial Eagle tinggal di manapun yang sumber makanannya melimpah dan mudah didapat.
Habitat asli dari Martial Eagle atau Elang Bela Diri ini adalah di hutan terbuka dan padang rumput. Martial Eagle termasuk elang yang sangat besar, dan ketajaman pandangannya membuatnya cocok mencari mangsa di tempat terbuka.
Elang Martial menghindari hidup hutan dengan kanopi tertutup dan gurun yang sangat gersang. Karena keganasannya dan tingkat efektifitas perburuannya terhadap mangsanya, ia dijuluki “macan tutul udara” oleh beberapa peneliti. Martial Eagle adalah predator yang berada di puncak rantai makanan burung di habitatnya.
Kelas mangsa yang paling beragam dalam makanan Martial Eagle yang diketahui adalah mamalia, yakni bervariasi sekitar 90 spesies. Makanannya antara lain kelinci tanjung, kelinci batu merah, kelinci sabana Afrika, kelinci goa, tupai tanah, dan masih banyak mamalia kecil dan hewan pengerat lainnya.
Martial Eagle di habitat aslinya memiliki teritorial udara sendiri. Mereka cenderung bergerak dalam satu keluarga. Biasanya, akan ditemukan pasangan Martial Eagle yang berputar-putar di udara dan mengeluarkan suara sebagai tanda daerah jelajah mereka, atau hanya sekedar bertengger dan berseru di dekat sarang anakannya.
Martial Eagle dapat berkembang biak dalam beberapa bulan di berbagai wilayah jangkauan mereka. Namun, elang jenis ini jarang sekali bertelur, kira-kira hanya satu butir tiap dua tahun. Telur Martial Eagle berbentuk bulat lonjong dan berwarna putih pucat hingga biru kehijauan.
Satwa Martial Eagle ini mungkin secara alami memang langka, karena kebutuhannya untuk wilayah yang luas dan tingkat reproduksi yang rendah. Di 2020 ini, status konservasi dari Martial Eagle sudah mencapai terancam punah. Kasus kelangkaan ini sebagian besar karena dibunuh langsung oleh manusia.










Balas