Fakta Menarik Pacu Jalur, Lomba Perahu di Riau yang Mendunia

pacu jalur
Tradisi Pacu Jalur di sepanjang Sungai Kuantan, Kuantan Singingi, Riau (Foto: kemenparekraf.go.id)

Blok-a.com – Tradisi Pacu Jalur dari Kuantan Singingi, Riau, kini semakin mendunia dan menarik perhatian internasional.

Popularitas Pacu Jalur melonjak setelah gerakan khas bernama “Aura Farming” yang dipopulerkan oleh seorang bocah bernama Rayyan Arkha Dhika (Dika) viral di media sosial.

Gerakan luwes Dika ini bahkan diikuti oleh berbagai tokoh dunia, mulai dari klub sepak bola besar Paris Saint-Germain (PSG), maskot AC Milan, rapper KSI, bintang NFL sekaligus pasangan Taylor Swift, Travis Kelce.

Di balik kepopulerannya yang kini mendunia, terdapat sejumlah fakta menarik tentang tradisi Pacu Jalur yang patut diketahui.

Sejarah

Tradisi Pacu Jalur sudah ada sejak abad ke-17, ketika masyarakat di sepanjang Sungai Kuantan, Kuantan Singingi, Riau, menggunakan jalur sebagai alat transportasi utama.

Saat itu, perahu ini digunakan untuk mengangkut hasil bumi seperti pisang dan tebu, serta dapat memuat 40 hingga 60 orang sekaligus.

Seiring waktu, jalur mulai dihias dengan ukiran berbentuk kepala ular, buaya, atau harimau, dan dilengkapi payung, selendang, serta tiang tengah. Hiasan ini menunjukkan status sosial, karena hanya bangsawan dan tokoh adat yang memilikinya.

Sekitar 100 tahun kemudian, jalur mulai diperlombakan sebagai ajang adu kecepatan. Dari sinilah lahir tradisi Pacu Jalur.

Awalnya, perlombaan ini diadakan untuk memperingati hari besar Islam. Kini, Pacu Jalur rutin digelar setiap Agustus untuk merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia. Setiap tahunnya, lebih dari 100 jalur biasanya ikut bertanding, dikayuh oleh 45–60 anak pacu.

Tradisi ini diperkirakan telah berlangsung sejak 1903, dan kini menjadi agenda wisata budaya tahunan di Riau. Pada masa penjajahan Belanda, Pacu Jalur juga diadakan untuk merayakan ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina setiap 31 Agustus.

Proses Pembuatan Jalur

Pembuatan jalur tidak dilakukan sembarangan. Prosesnya dimulai dengan Rapek Banjar atau rapat desa yang dipimpin oleh Pak Tuo atau Tetua Kampung. Panitia ini bertugas merencanakan pembuatan jalur, termasuk memilih jenis kayu yang akan digunakan.

Kayu yang dipilih harus memiliki panjang 25–30 meter, diameter 1–2 meter, dan cukup kuat untuk menampung 25–30 pendayung. Kayu terpilih diyakini memiliki kekuatan magis karena dianggap memiliki mambang atau roh penunggu.

Sebelum penebangan, seorang dukun ditunjuk untuk menentukan lokasi pohon melalui dua upacara khusus. Upacara pertama, Babalian, yaitu tarian dukun yang diiringi musik rebab, dan Batonung, pencarian pohon dengan menggunakan mantra dan kekuatan magis.

Setelah pohon ditemukan, dilakukan ritual persembahan untuk memohon izin kepada roh penjaga pohon.

Setelah itu, proses manobang atau penebangan kayu dimulai, dipimpin oleh dukun dan diawali dengan upacara semah. Upacara ini meliputi pemberian sesajen, pembakaran kemenyan, penyembelihan ayam hitam atau putih, serta pembacaan doa atau mantra yang disebut malembe.

Kepingan kayu pertama yang jatuh disimpan oleh dukun sebagai obat jika ada tukang yang sakit. Setelah pohon tumbang, dukun melempar telur ayam ke arah pohon sebagai simbol pemberian makanan kepada roh kayu.

Setelah seluruh proses ritual selesai, pembuatan jalur pun dimulai. Dimulai dengan tahap mengabung, yaitu memotong ujung kayu dan membersihkan dahan serta rantingnya, hingga tahap terakhir yaitu menghias jalur.

Cara Bermain

Setiap jalur yang ikut lomba memiliki beberapa anggota dengan beberapa peran, yaitu tukang concang (pemberi aba-aba), tukang pinggang (juru mudi), tukang tari, dan tukang onjay.

Sistem perlombaan yang diterapkan adalah sistem gugur, di mana peserta yang kalah pada babak awal tidak dapat melanjutkan ke babak berikutnya. Para pemenang kemudian akan bertanding kembali untuk memperebutkan gelar juara utama.

Salah satu keunikan Pacu Jalur adalah penggunaan meriam sebagai tanda dimulainya lomba. Di tepi Sungai Kuantan, meriam ditembakkan untuk memberi sinyal kepada seluruh peserta dan penonton. Suara meriam dipilih karena dapat menjangkau area perlombaan yang luas, berbeda dengan peluit yang suaranya tidak cukup keras untuk terdengar di keramaian.

Proses dimulai dengan dentuman meriam pertama yang menandai perahu berbaris rapi di garis start sesuai urutan. Dentuman kedua menjadi tanda para peserta bersiap mengayuh dayung. Ketika meriam dibunyikan untuk ketiga kalinya, perlombaan dimulai. Seluruh tim akan berusaha maksimal untuk mencapai garis finis lebih dulu.

Terdaftar Sebagai Warisan Budaya

Setelah sempat ramai diberitakan diklaim oleh Malaysia, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan bahwa Pacu Jalur telah resmi terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Nasional.

“Kementerian Kebudayaan juga sudah mencatatkan itu sebagai warisan budaya takbenda nasional, jadi namanya WBTB Indonesia, jadi sudah lama,” ujar Fadli Zon dikutip dari Antara, Rabu (9/7/2025).

Lebih lanjut, Fadli Zon menyebut jika tarian yang ditampilkan oleh anggota tim Pacu Jalur saat perahu melaju sangat ekspresif dan atraktif.

“Kalau menurut saya, itu organik ya, ekspresif, menyesuaikan dengan irama dari pacu itu sekaligus melakukan suatu gerakan atraktif. Atraksi yang sulit. Itu kan sulit, di ujung perahu, jadi keseimbangan sangat penting,” katanya. (hen)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com