Benarkah CIA Terlibat dalam Peristiwa G30S-1965? Ini Fakta-Faktanya

Monumen Pancasila Sakti yang dibangun untuk mengenang peristiwa tragis G30S/PKI-1965 (foto: bastamanography/flickr)
Monumen Pancasila Sakti yang dibangun untuk mengenang peristiwa tragis G30S/PKI-1965 (foto: bastamanography/flickr)

Blok-a.com – Peristiwa G30S 1965 telah lama menjadi salah satu bab paling misterius dalam sejarah Indonesia. Di luar narasi resmi bahwa PKI sebagai pelaku utama, muncul pula tudingan bahwa badan intelijen Amerika Serikat, CIA. Memiliki keterlibatan baik langsung maupun tidak langsung di balik peristiwa tersebut.

Berikut beberapa fakta, dokumen, dan argumen yang sering dikemukakan dalam literatur dan arsip terbuka:

Dokumen CIA dan Operasi Rahasia

Salah satu argumen awal muncul dari kebijakan AS terhadap Indonesia yang terlihat semakin khawatir terhadap orientasi Sukarno yang cenderung mendekat ke blok kiri.

Dokumen NSC (National Security Council) nomor 5518 yang dibuka kemudian, menyebut kemungkinan operasi rahasia untuk menggulingkan Sukarno jika ia makin condong ke komunisme. Beberapa sejarawan menyebut bahwa sejak dekade 1950-an AS sudah menyiapkan opsi “covert action” terhadap Indonesia.

Dalam arsip yang kemudian terbuka, terdapat dokumen CIA bertanggal sebelum G30S yang menyebut bahwa AS, melalui NSA/CIA, menyetujui operasi untuk “menghancurkan komunisme” di Indonesia. Dokumen rahasia CIA bertanggal 23 Februari 1965 disebut sebagai salah satu dokumen yang mengesahkan kerjasama covert dengan kelompok antikomunis di Indonesia.

Sejumlah laporan internal CIA juga memperlihatkan bahwa pejabat CIA memantau dengan sangat intens situasi politik di Indonesia, melakukan kontak dengan pejabat militer dan sipil lokal, serta meramalkan kemungkinan kudeta. Misalnya, F.J. Blouin, Direktur Wilayah Timur Jauh di CIA, dalam laporan tertanggal 3 Oktober 1965, memaparkan kemungkinan bahwa tentara akan memainkan peran dominan dalam konflik internal setelah peristiwa penculikan para jenderal.

Ketegangan Politik Soekarno dengan Negara Barat

Hubungan antara Presiden Soekarno dan Barat semakin tegang di tengah perang dingin. Soekarno yang kian dekat dengan blok komunis menimbulkan kekhawatiran di Washington.

Tim Weiner, seorang jurnalis investigasi dalam bukunya, Legacy of Ashes: The History of the CIA (2011), mengungkap bahwa penyebab kecurigaan tersebut adalah sikap tegas Soekarno yang menolak campur tangan Barat. Presiden ke-1 Indonesia menolak bantuan IMF dengan diiringi ucapan lantang “Go to hell with your aid!”, yang menandai perlawanan terbuka terhadap dominasi Amerika.

Sejak dekade 1950-an, CIA digerakkan untuk mencari cara menyingkirkan Soekarno dari panggung politik. Berbagai operasi rahasia digelar, mulai dari upaya memproduksi film porno dengan aktor mirip Soekarno hingga penyelundupan senjata bagi kelompok pemberontak di daerah.

Namun, upaya mendekati militer Indonesia tidak selalu mulus karena tubuh militer sendiri terpecah dalam berbagai faksi. Letjen Ahmad Yani sempat dipandang potensial oleh Washington. Sementara Duta Besar Amerika untuk Indonesia, Howard Jones, cenderung lebih memilih Jenderal Nasution.

Melansir dari Kompas (1/10/2022) mencatat adanya pertemuan rahasia antara Marshall Green, Adam Malik, agen CIA McAvoy, dan Jenderal Soeharto. Soekarno dianggap terlalu lunak menghadapi PKI, sementara Adam Malik baru saja kehilangan posisinya sebagai Duta Besar di Rusia.

Pertemuan ini memunculkan kesepakatan dalam hal membebaskan Indonesia dari komunisme. AS memberikan dukungan melalui bantuan kemanusiaan, diiringi pasokan strategis yang sifatnya terselubung. Berupa pasokan medis senilai 500.000 dolar AS, perangkat komunikasi, hingga rencana pemberian dana rahasia untuk Adam Malik.

Peringatan Kolonel Latief diabaikan

Namun, sebelum meletusnya Gerakan 30 September 1965, Kolonel Latief, salah satu tokoh penting G30S sempat memperingatkan Soeharto mengenai adanya isu Dewan Jenderal yang berniat menggulingkan Soekarno. Laporan serupa juga diterima oleh Pangdam Jaya Mayjen Umar Wirahadikusumah dan Pangdam Brawijaya Mayjen Basoeki Rachmat, tetapi semua memilih bungkam.

Gerakan kemudian benar-benar pecah, dipimpin oleh Letkol Untung dari Batalyon Tjakrabirawa yang loyal kepada Soekarno. Rencana awal untuk “memanggil” tujuh jenderal yang diduga terlibat Dewan Jenderal berubah menjadi instruksi “tangkap hidup atau mati,” dan berakhir dengan tragedi.

Latief kemudian mempertanyakan tanggung jawab Soeharto, yang disebutnya diam setelah menerima laporan tentang ancaman Dewan Jenderal. Ia bahkan menuduh Soeharto bersama Umar dan Basoeki bersekongkol menjatuhkan Soekarno setelah peristiwa G30S.

Tragedi G30S tidak berhenti pada penculikan dan pembunuhan jenderal. Pasca peristiwa itu, gelombang pembantaian menyapu berbagai daerah di Indonesia. Ratusan ribu orang dituding sebagai anggota atau simpatisan PKI, lalu dibantai tanpa proses hukum.

CIA dan Kedutaan Besar AS dituding ikut berperan dalam operasi pembersihan tersebut. Marshall Green bahkan mengirim telegram singkat ke Washington yang berbunyi, “We did what we had to do.

Amerika disebut memiliki basis data mengenai PKI yang lebih lengkap dibandingkan pemerintah Indonesia sendiri. Daftar tersebut bocor ke tangan militer dan menjadi dasar eksekusi massal.

Selain intelijen, AS juga memasok senjata, jip, hingga radio Collins KWM-2, perangkat komunikasi mutakhir pada masanya untuk mempermudah koordinasi operasi. Akibatnya, pembantaian berlangsung cepat dan meluas, menelan korban bukan hanya anggota PKI, tetapi juga mereka yang sekadar dicurigai bersimpati. (mg2/gni)

Penulis: Muhammad Naufal Abiyyu (mahasiswa magang UTM Bangkalan)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com