Gresik, blok-a.com – Laut tak lagi ramah bagi nelayan Gresik. Perubahan itu tak datang dari angin buruk atau badai. Namun dari ribuan patok merah yang kini berdiri di tengah laut, tak jauh dari dermaga milik perusahaan pelat merah terbesar di kota ini.
Patok-patok itu seperti pagar tak kasat mata. Membentang dari sisi utara dermaga milik Petrokimia Gresik, BUMN produsen pupuk terbesar di Indonesia.
Warga pesisir menduga, patok tersebut jadi penanda wilayah reklamasi yang akan digarap perusahaan. Jika hal ini benar terjadi, maka wilayah mereka terancam tercaplok lagi atas nama investasi.
Pantauan blok-a.com di lokasi, patok-patok merah itu tertanam kokoh di perairan dari sisi utara dermaga A milik PT Petrokimia Gresik, membentang dengan perkiraan jarak hingga 600 meter.
Menurut sumber yang didapat, saat air pasang, sebagian patok bahkan tak terlihat, menyisakan ancaman bagi kapal-kapal kecil nelayan yang melintas.
“Bagi nelayan yang kurang memahami medan, patok itu seperti jebakan. Berpotensi merusak badan kapal ataupun baling-baling patah bila tersangkut patok itu,” keluh Cacak, salah satu sumber yang tidak mau diungkapkan namanya, Minggu (29/6/2025).
Cacak merupakan nelayan yang masih bertahan menggantungkan hidup dari laut Gresik. Beberapa nelayan lain mengaku kurang memahami soal patok-patok ini.
Mereka hanya mendengar dari mulut ke mulut sudah pernah ada sosialisasi di pengurus Balai, kalau kawasan itu akan dijadikan proyek reklamasi, tak jelas pula batas wilayah laut yang akan dimanfaatkan.
“Katanya milik Petrokimia. Sudah beberapa bulan yang lalu ada patok-patok itu, Mau direklamasi jadi dermaga baru,” ujarnya.
Cacak dan rekan-rekannya tak serta-merta menolak pembangunan. Mereka sadar, Gresik tumbuh pesat karena industri. Tapi mereka juga berharap tak terus-menerus dikorbankan. Bahwa di balik laju ekspansi perusahaan, ada keluarga nelayan yang bertahan hidup dari laut.
“Katanya perusahaan kasih beasiswa untuk anak berprestasi, itu bagus. Tapi bagaimana dengan anak kami yang tak seberuntung itu, yang tak mempunyai prestasi? Yang orang tuanya bahkan kini kesulitan beli seragam sekolah karena hasil melaut makin menipis,” keluh sumber dari nelayan lain, dengan lirih.
Cacak menambahkan lagi, tak semua warga bisa mengandalkan jalur pendidikan unggulan. Sebagian besar nelayan hanya ingin anaknya bisa sekolah dengan layak, cukup makan, dan tetap punya laut untuk bekerja.
“Satu-satunya yang kami punya ya laut ini. Kalau lautnya habis, kami harus hidup dari mana lagi?. Trus jika pendidikan anak kami tidak memadai, mau kerja apa nantinya?” ucapnya sambil menatap jauh.
Keberadaan patok ini seperti simbol bahwa pesisir Gresik sedang dalam perubahan besar. Namun bukan perubahan yang menyenangkan bagi nelayan.
Wilayah tangkapan mereka menyempit. Risiko kecelakaan meningkat. Tak sedikit yang memilih menggantung jaringnya karena tak sanggup melawan ketidakpastian.
Ironisnya, perusahaan yang disebut-sebut memasang patok itu adalah BUMN, milik negara yang berkali-kali mendapat penghargaan kelestarian lingkungan.
Belum ada informasi pasti apakah patok-patok laut ini telah mengantongi izin Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Pada Kamis (3/7/2025) dan Senin (7/7/2025), jurnalis blok-a.com bertemu pihak Petrokimia Gresik untuk melakukan konfirmasi. Namun hingga berita ini ditayangkan, belum ada keterangan resmi yang diberikan perusahaan terkait patok merah tersebut.(ivn/lio)









