Di MCC, Budaya Kritik Arema Hingga Karakter Malang-an Dibahas

Arief Wibisono, Penulis Buku Sejarah Aremania. saat menjadi pembicara dialog di MCC Kota Malang (blok-a/bob)

Kota Malang, blok-a.com – Komite Ekonomi Kreatif menggelar acara dialog terkait Arema dan Aremabia di Pra Grand Launching MCC.

Dialog itu bertajuk “Budaya Kritik di Kota Malang & Sejarah Aremania”.

Dalam dialog itu menghadirkan Aang Kurniawan, Pemerhati Lingkungan dan Mantan Kontributor Sepak Bola Nasional dan juga Arief Wibisono, Penulis Buku Sejarah Aremania.

Penulis Buku Sejarah Aremania Arief Wibisono menjelaskan, akhir-akhir ini budaya kritik muncul di Malang. Kritikan itu muncul setelah adanya Tragedi Kanjuruhan.

Aremania mengkritik karena ingin klub berubah dan muncul solusi atas kejadian tersebut.

“Tahun 2022 Oktober lalu ada kejadian Kanjuruhan. Itu menjadi tragedi yang sangat menyedihkan. Akhirnya kejadian-kejadian itu muncul karakter Arema di Malang yakni mengkritik untuk mencari solusi,” kata dia di MCC.

Karakter Arek Malang, dia melanjutkan, untuk mengkritik itu sebenarnya adalah militan, dan silaturahmi antar korwil secara langsung.

“Akhirnya untuk memberikan perubahan otomatis muncul karakter Malang yang sesungguhnya bahwa dulu itu militan, dan silaturahmi antar Korwil,” kata dia.

Karakter itu pun membuat nama Arema kuat. Arek Malang atau warga Malang asli dulu militan. Jika ada masalah dan mengkritik mereka pasti akan komunikasi.

“Komunikasi silaturahmi secara langsung. Diskusi dilakukan. Militannta itu. Diskusi itu dilakukan dengan siapapun untuk memberi arahan sejauh mana sih tindakan yang dilakukan seperti apa kedepannya,” kata dia.

Namun karakter itu luntur. Sejak adanya teknologi, karakter Malang itu menurun atau mundur menurutnya.

Kekinian gerakan Arek Malang, menurutnya kebanyakan hanya berupa spanduk. Spanduk itu pun tidak ada yang tahu siapa yang memasang.

Tak ada bedanya juga dengan hadirnya sosial media.

Banyak akun di media sosial yang berujar tentang kritik yang tidak bertanggung namun tidak ada kontak yang bisa dihubungi.

“Akhirnya isinya itu mengadu domba antar wilayah antar teman. Akhirnya karakter Malang hilang. Karamternya yang guyub rukun kebersamaan itu hilang,” tuturnya.

Dengan hadirnya sosial media itu, banyak orang yang tidak bertanggungjawab untuk menunjukan jati dirinya.

“Dengan munculnya medsos yang tidak memberanikan menunjukan diri itu yang saya sesalkan,” tuturnya di Gedung MCC, Sabtu (4/3/2023).

Akhirnya dampak yang terjadi adalah kejadian akhir-akhir seperti pengerusakan kantor Arema.

Hal itu menurutnya karena kurangnya silaturahmi.

“Kalau silaturahmi kan bisa tahu kekurangan dan kelebihannya apa. Tidak hanya sekadar mengkoordinir, mengumpulkan massa. Tapi tidak ada contact person. Terus siapa yang bertanggung jawab. Akhirnya adek-adek kita yang menjadi korban,” tutupnya. (bob)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?