KOTA MALANG – Walikota Malang, Sutiaji mengisahkan pengalamannya saat terpapar Covid-19 dalam agenda bincang-bincang dengan ABM Inside, Senin (11/1) di hotel The Shalimar. Dalam kesempatan tersebut, ia mengaku ingin menjadi promotor donor plasma konvalesen.
“Ibaratnya, saya sudah keluar dari lubang jarum kematian. Saya ingin menjadi promotor atau deklarator donor plasma konvalesen. Itu berharga untuk pertolongan, karena antibodi bisa mendeteksi virus,” ujarnya.
Sutiaji tidak menyangka bahwa ia akan terpapar Covid-19. Pelacakan sudah dilakukan tetapi tidak menemukan dari mana ia terinfeksi. Tetapi, saat ini, ia percaya bahwa semua orang yang terpapar berpeluang untuk sembuh.
“Awalnya biasa saja. Masih bisa nyetir mobil dan lain-lain. Saat dinyatakan terpapar, saturasi oksigen juga masih bagus, di atas 90-an,” ucapnya.
Ia bersyukur daya tahan tubuh dan imunnya membantunya sembuh. Selain itu, tim dokter yang merawatnya juga memberi perawatan maksimal dan terus memotivasinya agar ia bisa sembuh. Untuk itu, ia menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya.
“Saat isolasi, saya berkali-kali diambil darahnya. Sampling jantung hingga dahak. Dahak berupa darah segar. Saya kira habis makan kurma. Ternyata terus warnanya seperti itu,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga menyebut jantungnya sudah membengkak dan susah bernafas. Tapi tim dokter terus berupaya meningkatkan semangat hidupnya. Yang ada, papar Sutiaji, hanya ada bayang-bayang kematian. Bayang-bayang orangtua, dan guru-gurunya juga berdatangan.
“Melihat makanan sudah mual. Waktu jalan paling 10 meter sudah ngos-ngosan. Harus bedrest 3 hari. Sudah habis dua plasma juga,” imbuhnya.
Lebih lanjut, ia mewanti-wanti agar masyarakat tetap waspada dan mematuhi protokol kesehatan secara ketat. Apalagi, ia mendapat informasi bahwa virus Covid-19 sudah bermutasi. Angka kematian juga mengkhawatirkan.
Saat ini persentase kematian di Kota Malang mencapai lebih dari 9 persen, dibanding Jawa Timur di angka 6,9 persen, dan nasional sebesar 2,9 persen.










Balas
Lihat komentar