Kota Malang, blok-a.com – Zura, seorang mahasiswi semester 4 di Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang (Unitri), merayakan Lebaran untuk kedua kalinya jauh dari keluarga di kampung halamannya di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dalam wawancara kali ini, Zura berbagi tentang tantangan, cara merayakan, dan pengalaman menjalani Lebaran di kota perantauan.
Zura mengungkapkan bahwa alasan utama ia tidak bisa mudik ke kampung halamannya adalah faktor jarak dan biaya.
“Saya kehalang jarak sama uang sih, kak, kampung saya kan jauh di NTB sana,” ujarnya.
Jarak yang jauh dan biaya perjalanan menjadi penghalang bagi Zura untuk merayakan Lebaran bersama keluarga.
Lebaran tahun ini terasa berbeda bagi Zura.
“Tentunya sedih ya, apalagi ini Lebaran ke-2 di kota orang tanpa keluarga gitu,” kata Zura dengan nada penuh kesan.
Meskipun tidak bersama keluarga, Zura tetap berusaha menjalani momen Lebaran dengan semangat dan kebahagiaan.
Meskipun merasa nyaman tinggal di kos tanpa gangguan, Zura juga merasakan kekhawatiran.
“Oh tentu nyaman banget, kak, apalagi sendiri, ga ada ribut gitu. Tapi takut juga sendirian di kos,” ungkap Zura.
Meskipun ketenangan menjadi keuntungan, rasa takut menghadapi kesendirian tetap ada di benaknya.
Untuk mengisi waktu selama bulan Ramadan, Zura berusaha terlibat dalam kegiatan yang bermanfaat di sekitar tempat tinggal.
“Ya sebisa mungkin jalan-jalan bareng teman atau ikut kegiatan yang bermanfaat di sekitar. Contohnya, sekarang kan bulan Ramadan, jadi di masjid ada agenda buka bersama, kita bantu-bantu ibu untuk menyiapkan buka bersama,” jelasnya.
Zura tetap menjaga semangat merayakan Lebaran meskipun jauh dari keluarga.
“Cara merayakannya ya seperti biasa, sholat Ied, setelah itu masak-masak makanan enak di kos. Simple aja sih, kak,” ungkap Zura, yang merasa penting untuk tetap merayakan meskipun dengan cara yang sederhana.
Zura mengatakan bahwa banyak teman-temannya yang memilih mudik, meski ia sendiri tidak bisa pulang.
“Ga, kak, saya merasa sekarang lebih banyak mahasiswa memilih mudik ketimbang ga mudik. Soalnya rata-rata teman-teman saya yang dari jauh ada yang mudik,” tambah Zura.
Bagi Zura, Lebaran bukan hanya tentang merayakan, tetapi juga tentang meminta maaf kepada orang tua dan kerabat.
“Ya tentunya ada, kak, apalagi Lebaran ini kan momen-nya sekali setahun dan di momen Lebaran ini juga kita meminta maaf kepada orang tua atau sanak saudara yang lebih tua daripada kita,” ungkap Zura dengan penuh makna.
Tantangan terbesar yang Zura rasakan adalah rasa kangen dengan keluarga.
“Tantangannya sih pasti rasa kangen, ya. Kangen ngumpul bareng keluarga di rumah, dapat THR dari orang-orang, dan ziarah kubur nenek kakek,” kenangnya, mengungkapkan rasa rindu akan tradisi Lebaran yang dilakukan bersama keluarga.
Meskipun tidak berada di kampus atau rumah, Zura tetap merasakan suasana Lebaran yang terasa di sekitar tempat tinggalnya.
“Kalau di kampus ga ada, kak, tapi kalau di sekitar tempat tinggal ada, contohnya di masjid dengan melaksanakan sholat Ied. Suasana Lebaran-nya sudah kerasa banget, apalagi pas takbiran, aduh rasanya campur aduk,” katanya.
Mengenai masa depan, Zura berharap untuk bisa merayakan Lebaran bersama keluarga di tahun-tahun yang akan datang.
“Ya ga tahu ya tahun depan gimana, apakah kita ketemu lagi sama Lebaran-nya atau tidak. Tapi doain semoga diberi umur panjang biar bisa ketemu Lebaran lagi,” ujar Zura dengan penuh harapan.
Meski jauh dari rumah, Zura tetap menjaga semangat dan makna Lebaran. Ia berharap momen Lebaran yang penuh makna ini bisa terus dirayakan bersama orang-orang tercinta di masa depan.
Penulis: Mahasiswa Magang Unitri, Inok Jehalu









