Melihat Cara Hidup Pedagang Pasar Comboran, Bisa Hidupi Keluarga dengan Penghasilan Rp 20 Ribu Sehari

Pedagang Pasar Comboran, Samijo (blok-A.com/Defrico Alfan)

Kota Malang, blok-A.com – Di sebuah perempatan Pasar Comboran, ada sebuah rel kereta api, yang pinggirannya dihiasi orang-orang berjualan disana.

Di pinggir rel yang sudah berkarat, mereka hanya duduk menggunakan alas, menjajakan barang bekasnya, kepada seorang pembeli yang lewat.

blok-A.com menyusuri tempat itu, sambil melihat-lihat. Ada sebuah kedai kecil dipinggir rel, dipajangnya buku-buku bekas yang berdebu di sekitar Pasar Comboran.

Didalamnya, ada seorang kakek tua yang menjaga kedai itu. Ia menyapa dan mempersilahkan blok-A.com untuk membaca buku disana.

Samijo namanya. Di usianya yang terbilang tidak lagi muda, ia berprofesi sebagai penjaga buku dan penjual sepeda bekas di Pasar Comboran. Perwakannya yang berisi, dengan tampilannya yang sederhana, ia pun bersedia untuk menceritakan pengalamannya.

“Saya disini cuman jaga buku mas, sudah empat tahunan disini,” ujarnya pada Selasa (13/09/2022).

Samijo berangkat dari rumahnya pukul 08.00 WIB, dan menjaga kedainya hingga siang hari. Pelanggan pun silih berganti, entah hanya membaca, ataupun membeli.

“Pembelinya kadang mahasiswa, kadang orang tua juga. Tidak mesti mas,” ucapnya kepada blok-A.com

Harga buku disana terbilang cukup murah, hanya berkisar diantara Rp 3 ribu – Rp 25 ribu saja. Setiap harinya, Samijo hanya menunggu disana, berharap ada yang membeli bukunya.

“Ini kan punya juragan, saya mendapat 30%. Jadi misal Rp 100 ribu per minggu, saya dikasih Rp 30 ribu. Gak menentu dapatnya, bisa dikatakan Rp 20 ribu perharinya,” ucapnya.

Saat ditanya untuk apa, pedagang Pasar Comboran ini hanya menjawab untuk anak dan istrinya.

“Untuk belanja dirumah mas, buat anak dan istri. Kalau tidak dapat, ya tidak belanja,” ujar Samijo.

Saat ditanya apakah cukup, dia hanya menjawab cukup, Semua rezeki yang diterima haruslah berkah, kurang atau lebih semua harus berkah.

“Karena kalau berkah itu pasti cukup. Kalau dibilang kurang atau lebih selama ini ya cukup-cukup aja karena berkah,” tuturnya.

Pernah Melihat Insiden Kecelakaan Kereta Yang Melintas

Samijo memiliki ketakutannya sendiri saat kereta api melintas. Hal itu ia benarkan langsung, karena jarak kedainya, hanya berkisar beberapa meter saja.

“Sebenarnya takut mas, tapi ya mau gimana. Orang itu baja kok, baja lari,” ujarnya sambil tertawa dan bercanda.

Mengenai insiden saat itu, ada sebuah kejadian dibenak Samijo yang terlintas di memorinya, tentang kejadian kecelakaan.

“Dulu kan kereta mau lewat, ada pengendara motor melinta juga, namun macet ditengah rela. Tapi syukurnya, hanya motornya saja yang kena, orang itu terus lari meninggalkan motornya,” ujarnya.

Sepengetahuan Samijo, hanya insiden itu saja yang ada dibenaknya. Tidak ada korban manusia, atas kereta api yang melintas disana.

Salah satu alasan terbesarnya dalam berjualan, hanya untuk beraktivitas dan menjaga kesehatannya. Samijo berkata seperti itu, karena usianya yang sudah tidak lagi muda.

“Usia saya kan 73 tahun, jadi harus ada aktivitas mas. Sampingannya ya berjualan buku, kadang jual sepeda bekas juga. Untuk menjaga kesehatan lah,” tutup Samijo.
(mg1/rco)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com

Redaktur pelaksana sekaligus Jurnalis blok-a.com yang memfokuskan liputan pada isu sosial, politik, dan peristiwa terkini di Malang Raya.