Kota Malang, Blok-a.com – Keluhan soal pelayanan parkir di Kayutangan Heritage makin banyak berseliweran di sosial media.
Terlebih, baru-baru ini terjadi cekcok akibat ulah oknum tukang parkir yang dituduh dianggap tidak sopan melayani pengunjung, dengan membentak.
Menurut Ketua RW 2 sekaligus salah satu pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Yunar Munar Mulya, bakal berikan seragam untuk petugas parkir resmi di Kayutangan Heritage Kota Malang.
“Rencananya kami beri itu seragam supaya lebih rapi dan bisa memberikan pelayanan terbaik untuk pengunjung,” kata dia.
Dia juga turut merasakan keresahan akibat banyaknya parkir liar di area Kayutangan. Jangankan pengunjung, warga lokal pun terkena dampaknya.
Banyak parkir liar yang bukan dari pengelola Pokdarwis dan warga lokal wilayah wisata itu. Termasuk juru parkir yang viral tersebut bukanlah warga Kayutangan Heritage.
“Itu bukan warga kami kalau yang viral kemarin itu,” ujarnya.
Menurut Yunar, warga lokal asli yang mengelola parkir di area Kayutangan hanya bertugas pada malam hari.
“Kalau warga kami itu malam, kalau anak itu (juru parkir) bukan warga kami,” ujar dia.
Juru parkir yang viral tersebut diberikan kewenangan langsung oleh pengusaha swasta, bukan dari Pokdarwis. Tidak hanya itu, banyak juru parkir liar yang diberikan kewenangan oleh pengusaha swasta. Sehingga, juru parkir asli pengurus wisata cukup kesulitan.
“Selain kesulitan uang di wilayah kami juga citra sebagai tempat wisata tercoreng,” kata dia.
Untuk pelayanan parkir asli warga, Yunar menegaskan tidak mungkin berlaku seperti itu. Mereka akan tampil dengan rapi, ramah, serta memberikan pelayanan parkir yang paripurna.
Pihaknya merasa malu atas kejadian seperti ini. Sebagai tempat wisata, tidak seharusnya pelayanan seperti itu.
“Ini jelas memalukan, tidak mencerminkan Kayutangan sama sekali. Ya segera kami koordinasi dengan Dishub, Polres dan Dispar supaya bisa sama-sama kita perbaiki sektor wisata ini agar lebih baik,” pungkasnya.
Sementara itu, salah satu pengunjung, Denanda, memang kesal dengan ulah juru parkir arogan. Mahasiswa semester 3 ini kerap nongkrong di salah satu kedai kopi di Kayutangan.
“Awalnya aku diemin aja, mungkin karena lihat motor aku plat B ya, dikira kaya kali. Aku kasih 5 ribu kembali 2 ribu, heran,” kata dia.
Itupun, Denanda tidak mendapatkan pelayanan yang baik. Setelah datang dan memarkir motor, Denanda langsung dimintai uang parkir. Namun ketika pergi meninggalkan tempat, dia tidak dibantu menyeberang.
“Ngeselin banget tuh. Mana aku beloknya ke kiri kan, sementara posisi kedai kopian tempat aku tuh di kanan, orang lewat sini kan kenceng-kenceng ya,” keluhnya.
Di sisi lain, pengguna roda empat, Puput, mengaku kesal. Dia sudah tiga kali ke Kayutangan dan tidak mendapatkan pelayanan yang baik soal parkir.
“Apa ya, yang paling ngeselin itu kalau baru aja dateng udah diomongin, ‘Sampe jam berapa mbak? 1 jam aja ya soalnya gantian,’” keluh Puput.
Gadis berhijab ini keheranan dengan plakat biaya tarif parkir yang tertancap di kawasan Kayutangan Heritage itu.
“Di situ kan mobil ditulis Rp 3 ribu, aku ditarikin Rp 5 ribu. Tapi ya gapapa deh, namanya aja tempat wisata. Cuman tolong jangan dibuat buru-buru dong,” keluh dia. (wdy/bob).









