Bangkai KMP Tunu Pratama Jaya Ditemukan Tengkurap di Kedalaman 50 Meter

Dirpolairud Polda Jatim, Kombes Pol Arman Asmara Syarifudin saat memberikan keterangan pers terkait penemuan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya, Minggu (13/7/2025). (Istimewa)
Dirpolairud Polda Jatim, Kombes Pol Arman Asmara Syarifudin saat memberikan keterangan pers terkait penemuan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya, Minggu (13/7/2025). (Istimewa)

Banyuwangi, blok-a.com – Setelah lebih dari sepekan dilakukan pencarian intensif, bangkai kapal KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali pada 12 Juli 2025 akhirnya ditemukan dalam kondisi terbalik di dasar laut dengan kedalaman sekitar 47 hingga 50 meter.

Direktur Polairud Polda Jawa Timur, Kombes Pol Arman Asmara Syarifudin, menjelaskan bahwa proses pencarian dilakukan menggunakan teknologi canggih seperti Multibeam Echosounder (MBES) dan Side Scan Sonar. Hasil pendeteksian menunjukkan keberadaan bangkai kapal dalam posisi tengkurap.

“Berdasarkan pewarnaan dan dimensi yang terdeteksi, dipastikan itu adalah KMP Tunu Pratama Jaya. Bangkai kapal berada di kedalaman antara 47,12 meter hingga 50 meter,” jelas Kombes Pol Arman saat memberikan keterangan di Banyuwangi, Minggu (13/7/2025).

Lokasi bangkai kapal ditemukan sekitar 3,9 kilometer dari titik awal kecelakaan.

“Jaraknya sekitar 3,9 kilometer dari lokasi awal kapal mengalami kecelakaan,” imbuhnya.

Dari hasil temuan ini, tim SAR gabungan mulai melanjutkan investigasi untuk mengungkap kondisi dan penyebab pasti tenggelamnya kapal. Selain itu, tim juga telah menerjunkan Remote Operated Vehicle (ROV) guna mendapatkan visual langsung kondisi kapal saat ini.

“Visual ROV penting untuk mengetahui apakah masih ada korban yang terperangkap di dalam kapal. Data ini akan digunakan untuk proses evakuasi. Kami harap hasilnya bisa segera rampung,” kata Arman.

Ia menegaskan bahwa seluruh proses ini merupakan bagian dari tahapan scientific investigation. Selain mengumpulkan data visual dan sonar, penyidik juga telah memeriksa sebanyak 54 saksi, yang terdiri dari penumpang dan anak buah kapal yang selamat.

“Pengumpulan data dan pemeriksaan saksi menjadi satu rangkaian penting dalam penyelidikan ini,” ujarnya.

Setelah data ROV dianalisis, tim akan melanjutkan ke tahapan hot tapping system, yaitu proses pelubangan pada badan kapal guna mengeluarkan udara yang terperangkap di dalam lambung. Prosedur ini dilakukan agar bangkai kapal tidak bergeser akibat arus laut.

“Udara yang terjebak perlu dikeluarkan supaya kapal tetap stabil dan tidak tergeser arus,” terang Arman.

Jika seluruh data pencitraan telah lengkap, proses selanjutnya adalah pengangkatan bangkai kapal. Proses ini akan dilakukan dengan dua metode, yaitu ditarik menggunakan kapal atau melalui mekanisme robot.

“Pengangkatan kapal menjadi tahapan ketiga dari keseluruhan upaya penyelamatan dan penyelidikan. Metodenya bisa melalui penarikan atau bantuan alat robotik,” tutup Kombes Pol Arman.(kur/lio)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com