Jombang, blok-a.com – Komisi Program Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mulai membahas peta jalan strategis organisasi untuk 25 tahun ke depan. Pembahasan tersebut digelar di Gedung Institut Agama Islam Bani Fattah, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, sejak Kamis (27/8/2026).
Ketua Komisi Program Muktamar ke-35 NU, Alissa Wahid, mengatakan pembahasan difokuskan pada perencanaan strategis jangka panjang guna menghadapi perubahan zaman sekaligus mewujudkan visi NU Digdaya 2050.
Menurut Alissa, Peta Jalan NU menuju NU Digdaya 2050 merupakan mandat yang telah ditetapkan dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung. Peta jalan tersebut disiapkan sebagai pedoman organisasi dalam memasuki abad kedua perjalanan NU.
“Sebenarnya Peta Jalan NU adalah mandat yang telah dipersiapkan dan disahkan di Muktamar ke-34 NU. Sehingga, itulah yang membuat kita pada hari ini pembahasan terkait peta jalan NU para komisi program ini,” ujar Alissa.
Ia menjelaskan, penyusunan peta jalan dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai perubahan yang tengah dan akan dihadapi NU, baik dalam konteks internal organisasi maupun perkembangan dunia.
Dari kajian tersebut, NU kemudian merumuskan kerangka jangka panjang yang diarahkan untuk mewujudkan organisasi yang berdaya hingga 2050.
“Nah, di peta jalan ini setelah kita melihat begitu konteksnya apa yang dihadapi NU, kemudian konteksnya seperti apa, dunianya seperti apa, sehingga membuat kita akhirnya punya sebuah skema, punya kerangka bahwa yang kita ingin wujudkan adalah NU berdaya 2050,” jelasnya.
Lima Tahapan Menuju NU Digdaya 2050
Untuk merealisasikan visi tersebut, Komisi Program Muktamar ke-35 NU merumuskan lima tahapan strategis yang masing-masing memiliki target berbeda dalam periode lima tahun.
Pertama, 2026–2030: Transformasi Jam’iyah.
Tahap awal diarahkan pada pembenahan mendasar terhadap organisasi, sistem, dan budaya kerja. Langkah tersebut menjadi fondasi untuk membangun NU yang lebih adaptif, modern, dan berdaya saing.
Kedua, 2031–2035: Akselerasi Transformasi.
Pada tahap ini, NU akan mempercepat implementasi hasil transformasi melalui penguatan kapasitas, inovasi, serta ekspansi program agar memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Ketiga, 2036–2040: Kemandirian Jam’iyah.
Tahapan ini diarahkan untuk memperkuat kemandirian NU dalam mengelola sumber daya, menjalankan program, dan mengambil keputusan, sehingga organisasi tidak bergantung pada pihak eksternal.
Keempat, 2041–2045: Kepemimpinan Etik.
NU diarahkan untuk semakin memperkuat perannya sebagai rujukan kepemimpinan berbasis nilai dan etika. Pada tahap ini, NU diharapkan mampu memberikan kontribusi strategis, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Kelima, 2046–2050: Ekosistem Peradaban.
Tahap terakhir menargetkan terbentuknya ekosistem peradaban NU yang mapan melalui pembangunan sistem yang terintegrasi dan berkelanjutan. Nilai, institusi, dan praktik sosial diharapkan dapat saling terhubung dalam membentuk peradaban yang maju.
Alissa mengatakan, keberadaan peta jalan tersebut diharapkan dapat memberikan arah yang jelas bagi seluruh struktur organisasi NU, termasuk Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU).
Dengan adanya target dan tahapan yang terukur, PCNU di berbagai daerah tidak perlu lagi merumuskan program secara terpisah tanpa mengacu pada arah strategis organisasi.
“Jadi, harapan kita bila punya peta jalan dengan kejelasan, maka semua PCNU tidak perlu bingung mikir terus kita harus bikin program apa ya. Sehingga tinggal merujuk pada lima langkah yang telah dirumuskan,” kata Alissa.
Peta jalan tersebut nantinya menjadi salah satu pijakan penting bagi NU dalam menyusun dan menjalankan program organisasi secara berkelanjutan hingga 2050.(Sya)




