Menikmati Sate Babi RM “Sukun Murni”, Kuliner Jempolan untuk Santap Natalan

Sate Babi Rm Murni 3
Sate Babi RM Murni - Foto: Rifky P

Kota Malang, blok-a.com – Elie Chwanda duduk di kursi restorannya untuk menunggu pelanggan saat reporter Blok-A tiba. Ia lantas berdiri menyambut. Gerakannya pelan mengingat usianya tak lagi muda.

Sepanjang hari, ia biasa menjaga restoran miliknya, Rumah Makan “Sukun Murni” di kawasan Oro-Oro Dowo, bersama istrinya dan satu karyawan. Ia mengaku, hari ini (24/12), satu hari menjelang natal, hanya beberapa pelanggan datang saat pagi.

Tahun ini, perayaan natal berbeda dengan tahun-tahun yang lalu. Rumah makan yang ia kelola sejak 22 tahun lalu ini sedang berjuang untuk menjaga keseimbangan.

“Biasanya, di sini selalu penuh saat natal atau tahun baru. Tetapi saya percaya, Tuhan akan segera memberi jalan supaya ini semua cepat selesai,” kata Koh Elie, sapaan akrabnya.

Pandemi Covid-19 membuat orang-orang tidak leluasa bergerak. Itu membuat keadaan menjadi sulit, bukan hanya untuknya, tetapi juga semua orang. Apalagi, banyak pelanggannya datang dari luar kota seperti Surabaya hingga Bandung maupun Jakarta.

Lelaki 78 tahun ini mengaku, ada pelanggannya dari Surabaya khawatir karena ada syarat untuk masuk Kota Malang.

Ya, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang memang baru saja mengeluarkan surat edaran untuk wisatawan agar datang ke Kota Malang membawa hasil negatif tes rapid.

Sate Babi Rm Murni 2
Sate Babi RM Murni

Selama pandemi, ia perlu mengatur siasat agar bisnisnya tetap berjalan. Biasanya, di situasi normal, ia menyiapkan kurang lebih 300 tusuk sate babi. Saat ini, ia mengaku, 150 tusuk pun belum tentu habis. Untuk itu, Koh Elie menyiasatinya dengan menjaga stok daging babi tetap terjaga kualitasnya, termasuk berapa kilogram yang mesti ia beli.

Restorannya punya tiga menu: sate babi, babi kecap dan baikut sayur asin. Ketiganya dibanderol Rp 80 ribu per porsi. Menurut pengakuannya, banyak pelanggan tidak keberatan merogoh kantong untuk makan di restorannya.

“Koh, sate babi bikinanmu juara. Gurih. Empuk. Jempol dua. Yang lain mengatakan masakan babi di sini tak ada duanya,” kata Koh Elie menirukan pelanggannya.

Itu sesuai prinsipnya, yakni ia rela membayar mahal untuk makanan enak, dan ia cukup percaya diri bahwa hidangan babi yang ia suguhkan memang, kata Koh Elie, “tak ada duanya”.

Dan ia benar-benar percaya diri bahwa kualitas masakannya tetap terjaga. Koh Elie mengaku promosinya dilakukan pelanggannya dari mulut ke mulut. Saat harga daging babi mahal, ia memilih menaikkan harga per porsi sebesar lima ribu rupiah, ketimbang menurunkan kualitasnya.

Semua pelanggannya, tutur Koh Elie, kerap kembali untuk merasakan hidangan yang ia racik dan kembangkan dari resep ibunya. Ada yang tiap bulan datang, bahkan ada yang tiap minggu.

Tetapi itu semua tak cukup menggambarkan sate babi racikannya. Sekiranya ada kata yang tepat menggambarkan sate babi bikinannya, saya berniat mengajukan satu kata. Hanya satu kata: “surgawi”.

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com