Kota Malang, blok-a.com – Dugaan penculikan anak di Perumahan Pesona Mutiara Tidar, Kota Malang, berhasil digagalkan dalam waktu kurang dari empat jam pada Kamis (21/5/2025). Pelaku berinisial AEP (35) membawa kabur anak berusia empat tahun, AD, yang merupakan anak dari ACA (34).
Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Nanang Haryono, mengatakan penculikan anak bermula saat pelaku mengajak ACA bertemu dengan dalih urusan bisnis. Begitu ACA keluar rumah, AEP justru mendatangi kediaman korban dan membawa kabur anaknya.
“Setelah ibu korban keluar, pelaku ini menuju rumah korban untuk menculik anak tersebut,” ujar Nanang saat rilis resmi di Mapolresta Malang Kota.
Aksi AEP disaksikan Asisten Rumah Tangga (ART) di rumah korban yang langsung menelepon ACA. Sekitar pukul 11.00 WIB, ACA melaporkan kejadian itu ke Polresta Malang Kota.
“Pelaku sempat mengancam menggunakan pisau ke ART-nya setelah sudah di depan pintu. Dan pelaku akhirnya membawa anak itu ke mobil dan kabur,” jelas Nanang.
Polisi bergerak cepat. Polresta Malang Kota langsung berkoordinasi dengan Polres Malang dan Polsek Batu. AEP akhirnya berhasil diamankan sekitar pukul 14.00 WIB di kawasan Junrejo, Kota Batu.
“Gak sampai 4 jam kita amankan. Kita dapati pelaku, mobil dan korban. Langsung kita tangkap,” tegas Nanang.
Dari penyelidikan, AEP sempat meminta uang tebusan sebesar Rp150 juta. ACA bahkan telah mentransfer Rp20 juta sebanyak dua kali melalui QRIS.
“Kalau tidak ditebus, katanya mau dijual. QRIS itu, akunnya nyambung ke akun judi online (judol) milik pelaku,” beber Nanang.
Korban ditemukan dalam kondisi selamat dan telah kembali ke keluarganya. Pelaku dijerat Pasal 83 jo Pasal 76F UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak serta Pasal 328 KUHP. Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara.
Kakek korban, Budiono, bersyukur cucunya ditemukan dan menyampaikan terima kasih atas gerak cepat polisi. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada, terlebih terhadap orang yang dikenal dekat.
“Hati-hati buat semua, karena pelaku itu bukan kita tidak kenal, tapi sangat kita kenal. Mungkin motif ekonomi atau apa, intinya tetap berhati-hati,” tuturnya. (yog)









