Kota Malang, blok-a.com – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Malang naik tajam hingga awal Mei 2025. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat ada 389 kasus DBD dengan tiga orang meninggal dunia.
Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif mengatakan, tren ini harus diwaspadai karena DBD bisa jadi wabah kalau tidak dikendalikan dengan baik.
“Infeksi Dengue atau DBD menimbulkan risiko wabah sehingga pengendalian harus dilakukan sejak dini,” kata Husnul.
Kalau dibandingkan dua tahun sebelumnya, angka DBD tahun ini melonjak drastis. Pada 2023, ada 462 kasus dengan empat korban meninggal. Tahun 2024 naik jadi 777 kasus, tapi jumlah korban meninggal tetap empat orang.
Husnul menyebut, Dinkes masih menyelidiki penyebab pasti tiga kematian tahun ini. Masih dicari tahu apakah mereka meninggal murni karena DBD atau ada penyakit penyerta.
“Kami masih mendalami apakah ketiganya meninggal murni karena DBD atau ada komorbid,” jelasnya.
Buat mencegah penyebaran DBD, Dinkes ngajak warga giat lagi melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) lewat strategi 3M Plus: menguras tempat penampungan air, menutup tempat penyimpanan air, dan mendaur ulang barang bekas yang bisa jadi sarang nyamuk.
Warga juga dianjurkan pakai lotion anti nyamuk, pelihara ikan pemakan jentik, dan kenali gejala awal DBD biar bisa cepat ditangani medis.
Langkah lain dari Dinkes, antara lain mengaktifkan lagi Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) DBD di tiap wilayah, dan gerakin program Gerakan 1 Rumah 1 Juru Pemantau Jentik (G1RIJ).
“Kampanye Malang Resik, Ga Ono Jentik juga kami optimalkan mulai 7 hingga 14 Mei. Setiap kader akan memantau 10 rumah di sekitar tempat tinggalnya untuk memastikan angka bebas jentik (ABJ) minimal 95 persen,” pungkas Husnul. (yog/bob)









