Surabaya, blok-a.com – Peran bidan dalam pencegahan stunting di 1.000 hari pertama kehidupan anak sangat menentukan. Bidan adalah sosok yang ada di garda terdepan dalam memberikan pendampingan, pengetahuan dan dukungan kepada ibu sejak kehamilan hingga bayi berusia lima tahun.
Berbagai program edukasi kepada bidan harus dilakukan. Seperti Sabtu (11/2/2023), 1.000 Bidan digembleng.
Bertempat di Dyandra Convention Center Surabaya, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Republik Indonesia, menggelar edukasi bidan.
Melihat data prevalensi stunting di Jawa Timur butuh percepatan, jika ingin mencapai target 14% pada 2024.
Berdasarkan data Suvei Status Gizi Indonesia (SSGI) di 2022, saat ini tingkat stunting Jatim berada di angka 19,2%. Di bawah batas maksimal WHO.
Dalam strategi nasional, percepatan pencegahan stunting adalah sasaran prioritas, maka ada intensitas edukasi kepada kelompok prioritas yang mencakup ibu hamil, dan ibu menyusui.
Ditambah kepasa anak berusia 0-23 bulan, atau 1.000 Hari Pasca Kelahiran (HPK).
Kelompok ini secara rutin bertemu dengan para bidan untuk memantau kesehatan anak.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, untuk itu menekankan efektifnya intervensi para bidan dalam menurunkan angka stunting.
“Targetnya hingga mencapai harapan Presiden Republik Indonesia yakni 14 % pada 2024,” ujarnya.
Pemprov Jatim selalu menekankan pentingnya gizi seimbang bagi anak-anak. Angka 14% ini bukan sekedar target, tapi menentukan masa depan bangsa.
“Ada tugas besar yang harus kita tuntaskan. Yakni terbangun sinergi antar berbagai pihak,” tegasnya.
Para bidan dapat memberi penyuluhan terkait pola asuh yang benar bagi para ibu. Apabila para ibu mengonsumsi nutrisi yang cukup dengan pola hidup sehat, serta anak diasuh dengan penuh kasih sayang serta gizi tercukupi, maka risiko stunting dapat dihindari atau bahkan dihilangkan.
“Bidan ini peranannya sangat signifikan dalam penurunan angka stunting pada anak. Bidan adalah garda terdepan, ujung tombak tenaga kesehatan. Merekalah yang selalu mendampingi para ibu, baik semenjak awal kehamilan sampai sang anak mencapai usia lima tahun,” katanya.
Khofifah mengapresiasi seluruh bidan atas kinerjanya menurunkan stunting. Khofifah pun menyerahkan penghargaan bagi Dinas Kesehatan dan Bidan Terbaik di Jatim didampingi Kepala Perwakilan BKKBN Jatim, Maria Ernawati.
Mereka yang mendapatkan apresiasi itu yakni Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Dinkes Situbondo, dan Dinkes Sidoarjo.
Untuk kategori bidan, diraih bidan Ruwani asal Gresik, Eny Widiyasari asal Kota Surabaya, dan Vinsentia Ismijati asal Kota Surabaya.
“Stunting harus dipangkas untuk menciptakan generasi yang berkualitas. Keikhlasan panjenengan akan menjadi amal jariyah panjenengan semua,” pungkas Khofifah.
Kepala BKKBN RI Hasto Wardoyo pun menegaskan pentingnya peran bidan dalam penurunan stunting.
Karena peran bidan dalam memberikan penyuluhan pada ibu hamil, tingkat stunting di Jawa Timur saat ini bisa turun di bawah 20%.
“Ada yang bilang bidan bukan segalanya, tapi tanpa bidan BKKBN bukan apa-apa. Jatim mengalami penurunan yang sangat signifikan, yaitu turun 4.2% menjadi 19,2% pada tahun 2022, angka ini di bawah 20% angka maksimal WHO. Jatim saya kira baik, karena bisa turun di bawah 20%,” pujinya.
Presiden Direktur Dexa Medika V Hery Sutanto menegaskan sinergi antar pihak, pemerintah dan swasta, akan sangat berpengaruh bagi tingkat edukasi serta literasi seputar stunting.
“Dukungan dan peran swasta juga diperlukan dalam upaya ini. Kita akan terus melanjutkan upaya-upaya penurunan stunting ini sesuai dengan arahan BKKBN dan Ibu Gubernur,” pungkasnya.(kim/lio)










Balas
Lihat komentar