Kabupaten Malang, blok-a.com – Momen Lebaran selalu menjadi ajang untuk menjalin kembali tali silaturahmi dengan keluarga dan kerabat. Hal ini pula yang dilakukan oleh Suwadi usia 60 tahun, seorang petani asal Desa Jeding Tamban, Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang.
Demi bersilaturahmi dengan sanak saudara yang telah lama tak dikunjungi, ia rela berjalan kaki sejauh 68 km pulang pergi, melewati medan pegunungan.
Suwadi memulai perjalanannya pada pagi hari Lebaran pertama, 31 Maret 2025. Ia berangkat dari rumahnya di Desa Jeding dan berjalan kaki sejauh 18 km menuju Desa Tambaksari Tengah, Sidoasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan.
Perjalanan ini ditempuhnya dalam waktu enam hingga tujuh jam dengan kondisi medan naik turun perbukitan. Di desa ini, ia menginap semalam sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya.
Pada 1 April 2025, sekitar pukul 06.00 pagi, Pak Suwadi melanjutkan perjalanan menuju Desa Kemudinan Wonosari, Kelurahan Sukodono, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. Jarak sejauh 16 km ia tempuh dengan berjalan kaki selama enam jam, tiba sekitar pukul 11.00 siang.
Medan perjalanan untuk rute ke dua ini tentunya lebih menanjak, karena desa Kemudinan tersebut berlokasi pas di atas pegunungan. Perjalanan ini ia lakukan dengan penuh semangat karena sudah 15 tahun tidak mengunjungi keluarga di desa tersebut.
Suwadi mengungkapkan bahwa sebenarnya di rumahnya terdapat sepeda motor, namun ia tidak bisa mengendarainya. Ketika ditanya mengapa tidak meminta anaknya untuk mengantar, ia menjelaskan bahwa jadwal silaturahminya bertepatan dengan agenda anak-anaknya.
“Sepeda nggeh wonten, sakingae anak iki ben dolan kados kancan-kancane,” ungkapnya dalam bahasa Jawa, yang berarti bahwa meskipun ada sepeda motor, ia membiarkan anaknya menggunakan kendaraan tersebut agar bisa berkumpul dengan teman-temannya seperti anak muda pada umumnya.
Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa anak keduanya yang masih gadis memiliki agenda sendiri.
“Jenenge wong anak wedok lek mboten ten kompakkane nggeh mestikan mboten purun, pasti pingin dolan piyambek. Memang lare enom, sng penting mboten tukaran. Tapi nggeh sak derengeh niku kulo nggeh ten pundi-pundi, ngeh anak kulo prawan niki sng ngantar, dados sng sak niki krono larene pingin dolan piyambek, mangkane nggeh mpon kulo mlampah ae.”
Maksudnya, karena ia tidak memberitahu lebih awal, anaknya yang masih muda sudah memiliki rencana sendiri dan belum bisa mengantarnya. Oleh karena itu, ia memilih berjalan kaki untuk tetap bisa bersilaturahmi.
Setelah bertamu di Desa Kemudinan, Suwadi tidak langsung kembali ke rumahnya di Desa Jeding. Ia memutuskan untuk kembali ke Desa Tambaksari terlebih dahulu sebelum akhirnya pulang. Dengan demikian, total perjalanan yang ia tempuh mencapai 68 km dalam waktu hampir dua hari berjalan kaki.
“Abote pingin nyambung dulur, mergo lek mboten ten wulan becik nggeh mboten saget dolan kados silaturahmi ngeten niki, krono nggeh sibuk nyambut damel,” tambahnya.
Maksudnya ia ingin menjaga hubungan persaudaraan karena di luar bulan Lebaran sulit untuk meluangkan waktu akibat kesibukan pekerjaan.
Semangat dan ketulusan Suwadi dalam menjaga tali silaturahmi di tengah keterbatasan menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Momen Lebaran bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga kesempatan untuk mempererat hubungan keluarga, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Suwadi dengan perjuangannya yang luar biasa. (zul/bob)









