Magetan, blok-a.com — Pemerintah Desa (Pemdes) Pacalan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, menggelar tradisi Bersih Desa bertajuk “Dawuhan Senopati Sumber Mudal” pada Jumat (18/7/2025).
Kegiatan yang dipusatkan di kawasan mata air Sumber Mudal ini diikuti oleh warga setempat sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan air yang selama ini menjadi sumber kehidupan dan irigasi utama di wilayah tersebut.
Dalam acara ini, warga membawa sesaji dan tumpeng yang didoakan bersama oleh tokoh masyarakat dan sesepuh desa di sekitar sumber mata air.
“Bersih Desa merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan setiap bulan Muharram oleh masyarakat Jawa, termasuk di Pacalan, sebagai wujud permohonan keselamatan, keberkahan, serta penghormatan terhadap alam dan leluhur,” ungkap Kepala Desa Pacalan, Agus Suharto, ST., MT.
Agus menjelaskan bahwa Sumber Mudal memiliki peran vital dalam kehidupan warga. Selain sebagai sumber air bersih, air dari kawasan tersebut juga mengaliri lahan pertanian di beberapa desa, baik di jalur utara maupun selatan Desa Pacalan.
“Air dari Sumber Mudal ini mengairi banyak wilayah, mulai dari Patalan, Sidorjo, Kalang, Campursari, hingga ke Kaligando di sisi utara. Di sisi selatan, aliran air masuk ke Sendangagung, Samriogeng, Mojopurno, lalu kembali ke Kaligando. Ini menunjukkan pentingnya keberadaan sumber air ini bagi pertanian lintas desa,” jelas Agus.
Agus juga menegaskan bahwa keberadaan sumber air seperti ini harus dijaga kelestariannya. Meski kawasan ini terkesan angker karena dikelilingi pohon-pohon besar dan jurang, ia menekankan bahwa tidak ada unsur mistis dalam tradisi ini.
“Sejak zaman dulu, manusia selalu tinggal di sekitar air dan tempat berteduh. Jadi ini lebih kepada logika kebutuhan hidup, bukan hal mistis,” ujarnya.
Tradisi Dawuhan tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga menjadi titik awal penguatan identitas lokal dan potensi pengembangan wisata berbasis alam.
Untuk kedepannya, Pemdes Pacalan berencana mengembangkan kawasan Sumber Mudal secara bertahap sebagai destinasi wisata edukatif dan konservatif.
“Kami sudah mulai pengembangan, tapi dilakukan bertahap dan realistis. Banyak desa yang membangun wisata dengan anggaran besar, namun akhirnya kesulitan mengelola. Kami memilih tumbuh pelan-pelan, berbasis kebutuhan real dan keterlibatan masyarakat,” kata Agus.
Ia mencontohkan keberhasilan Pasar Desa Pacalan yang dibangun tanpa dana besar, namun kini aktif beroperasi dan menjadi sumber ekonomi warga.
“Kami belajar dari pengalaman. Yang penting bukan hanya membangun, tetapi juga menjamin keberlanjutannya,” imbuhnya.
Selain itu, sebagai lanjutan dari kegiatan Bersih Desa ini, Pemdes Pacalan juga tengah menyiapkan Pawai Budaya yang akan dikolaborasikan dengan peringatan HUT Kemerdekaan RI pada bulan Agustus mendatang. Hal ini dilakukan berdasarkan permintaan masyarakat agar pelaksanaan kegiatan budaya semakin meriah dan melibatkan lebih banyak partisipasi warga.
“Agenda kebudayaan ini bukan hanya menjaga tradisi, tapi juga mempererat kebersamaan masyarakat dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan dan identitas desa,” tutup Agus.(nan/lio)









