Gus Baha Jelaskan Cara Tentukan Bulan Syawal

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha (foto: Wikimedia)

Blok-a.com – Bulan Syawal telah tiba, dan pada hari raya Idul Fitri kali ini kedua organisasi islam terbesar di Indonesia Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama sepakat merayakannya di hari yang sama.

Beberapa kali memang sempat berbeda, dan hal ini terjadi sejak dulu. Lalu, bagaimana kah sebenarnya penentuan awal bulan Syawal ini pada waktu yang lampau?

Dalam konteks penentuan awal bulan Syawal dan Hari Raya Idul Fitri, pandangan Gus Baha menarik untuk disimak. 

Dalam sebuah ceramah yang disampaikannya melalui channel Santri Gayeng, Gus Baha mengungkapkan cara tradisional yang digunakan orang dulu untuk menentukan awal bulan Syawal, yang tidak selalu melibatkan ilmu falak atau pengetahuan bintang.

Menurut Gus Baha, cara orang dulu menentukan awal bulan Syawal adalah dengan mengamati bentuk bulan baru, atau rembulan. Ia menegaskan bahwa penentuan ini dilakukan dengan sederhana, tanpa perlu melibatkan pengetahuan yang rumit dalam ilmu falak. 

Gus Baha memberikan contoh bahwa perbedaan pendapat yang mungkin terjadi dalam menentukan awal bulan Ramadhan atau Syawal seharusnya tidak dianggap sebagai masalah besar. 

“Sama-sama Islam kok berbeda? Memangnya kalau sama-sama Islam pikirannya harus sama?” ujar Gus Baha.

Gus Baha mengingatkan bahwa bulan dapat memiliki panjang 29 atau 30 hari dalam ilmu falak, sehingga perbedaan pendapat tentang penentuan awal bulan Syawal seharusnya dimaklumi sebagai hal yang wajar. 

“Berarti sejak awal, potensi itu memang sama-sama ada,”

Gus Baha menyarankan agar masyarakat dapat melakukan perhitungan sederhana dimulai dari hari Ahad dan melihat tanggal 15, tanpa harus belajar falak secara mendalam. 

Dengan metode sederhana ini, akan terlihat apakah bulan sudah purnama atau belum, sehingga dapat memperjelas penentuan awal bulan Syawal.

“Orang yang meributkan hal itu, disuruh saja melihat tanggal 15. Sekarang dihitung saja. Cobalah kalian percaya ilmu, model awam saja, tidak perlu belajar falak. Cari saja tanggal 15 dimulai dari hari Ahad, hitung saja,” terangnya.

Gus Baha menerangkan, jika pada hari itu bulan purnama bulat, maka pergantian bulan besar kemungkinannya akan datang di hari yang sama daripada di hari berikutnya atau sebelumnya.

Sementara jika bulan belum purnama bulat di tanggal 15 itu, maka kemungkinan besar pergantian bulan akan jatuh di hari berikutnya. Jika contohnya Ahad, maka jatuhnya akan di hari Senin. Begitulah cara sederhana menghitung kapan bulan baru akan dimulai menurut Gus Baha.

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com