Malang, Blok-a.com – Bagi banyak mahasiswa rantau di Malang, hidup hemat bukan lagi pilihan, tapi sudah jadi bagian dari rutinitas. Jauh dari keluarga membuat mereka harus pandai menyesuaikan diri dengan kondisi keuangan yang tidak selalu stabil. Mereka belajar mengatur pengeluaran, memprioritaskan kebutuhan, dan mencari cara agar uang kiriman cukup sampai akhir bulan.
Arul (26), mahasiswa asal Jember yang kini tinggal menunggu wisuda, sudah terbiasa hidup hemat sejak kuliah. Dulu, ia hanya mengandalkan kiriman orang tua sebesar satu juta rupiah per bulan.
“Dari situ harus dibagi untuk pondok, makan, dan tugas. Jadi semua diatur, dibuat rencana selama sebulan,” ceritanya.
Arul mengaku lebih suka menyiapkan makanan sendiri dibanding membeli di luar karena bisa lebih efisien. Ia juga punya kebiasaan mencatat kebutuhan pokok setiap awal bulan agar uangnya tidak habis sebelum waktunya.
Namun, perjuangannya tidak selalu mulus. Arul pernah mengalami masa sulit ketika uang kiriman terlambat datang.
“Pernah tiga hari cuma bisa minum, karena uangnya habis dipinjem teman,” kenangnya sambil tertawa kecil.
Pengalaman itu membuatnya semakin hati-hati. Kini, setelah bekerja dan membuka usaha kecil berjualan rujak petis, ia tetap mempertahankan gaya hidup hemat yang sama.
Sementara itu, Virna (21), mahasiswi semester 7 asal Papua yang kuliah di UIN Malang, punya pendekatan berbeda. Ia tidak menggunakan catatan atau perhitungan khusus, tapi lebih mengandalkan kesadaran diri.
“Kalau uang mulai menipis, aku langsung ngerem. Biasanya dari situ aku tahu mana yang perlu dikurangi,” ujarnya.
Virna juga memilih cara-cara sederhana untuk menghemat pengeluaran, seperti membawa bekal dari kos, berjalan kaki bila jarak tidak terlalu jauh, hingga menahan keinginan membeli barang lucu atau skincare baru. Menurutnya, hidup hemat bukan berarti mengekang diri, tapi tahu batas kemampuan dan tetap bisa menikmati hari-hari di perantauan.
Berbeda lagi dengan Eco (21), mahasiswa asal Bekasi yang juga kuliah di UIN Malang. Ia terbiasa memasak bersama teman kos dan belanja bahan makanan mingguan di pasar tradisional.
“Kalau patungan beli bahan, bisa masak untuk beberapa hari, jadi nggak perlu jajan tiap hari,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menghemat listrik dengan mematikan alat elektronik saat tidak digunakan, karena biaya token listrik kos juga naik.
Gaya hidup hemat ini ternyata juga diakui oleh Bu Iis (42), pemilik kos di kawasan Landungsari yang sudah lebih dari sepuluh tahun mengelola kos mahasiswa. Ia melihat banyak penghuninya kini lebih mandiri dan cerdas mengatur uang.
“Sekarang anak-anak kos banyak yang masak sendiri, cuci sendiri, bahkan belanja bareng biar irit. Mereka jauh lebih pintar mengatur keuangan dibanding dulu,” katanya.
Bagi para mahasiswa rantau, hidup hemat bukan sekadar menekan pengeluaran, tapi juga bentuk tanggung jawab dan kedewasaan. Dari pengalaman mereka, tumbuh kebiasaan baru yang sederhana tetapi penting, yakni mencatat kebutuhan, menyiapkan dana darurat, hingga saling berbagi antar teman kos. Semua dilakukan demi bisa bertahan tanpa harus merasa kekurangan. (mg1/gni)
Penulis: Rosa Dwi Eliyah (Mahasiswa Magang UTM Bangkalan)










Balas