Berkah Ziarah Kubur Bagi Jukir dan Penjual Bunga Tabur

Sukini relawan pembersih TPU Dusun Krajan, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng yang juga penjual bunga tabur musiman saat melayani pembeli di lapaknya, Rabu (22/3/2023).(blok-a.com/Kuryanto)
Sukini relawan pembersih TPU Dusun Krajan, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng yang juga penjual bunga tabur musiman saat melayani pembeli di lapaknya, Rabu (22/3/2023).(blok-a.com/Kuryanto)

Banyuwangi, blok-a.com – Ziarah kubur menjadi salah satu tradisi masyarakat Indonesia jelang Ramadan. Biasanya, keluarga akan berkumpul dan pergi ke makam orang tua atau sanak saudara yang telah meninggal dunia.

Imam masjid Miftahul Falah, Desa Genteng, Kecamatan Genteng, Banyuwangi Ustad Imam Subaweh (60) menyampaikan Islam tidak melarang tradisi ziarah kubur. Bahkan, ziarah kubur menjadi salah satu ibadah yang dianjurkan.

“Ziarah kubur adalah tradisi yang baik dan merupakan bentuk ibadah yang dianjurkan dilakukan di dalam agama Islam,” kata Ustad Imam Subaweh, Rabu (22/3/2023).

Bahkan, tradisi ziarah kubur jelang Ramadan justru membawa berkah tersendiri bagi emak-emak relawan pembersih tempat pemakaman umum (TPU), penjual bunga tabur hingga juru parkir (jukir) musiman.

Seperti yang dikatakan salah seorang janda warga Dusun Krajan, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng bernama Sukini (65) yang rumahnya tepat di sebelah TPU terbesar di Kecamatan Genteng.

Sukini mengumpulkan pundi-pundi rupiah dengan bekerja sebagai relawan pembersih TPU serta penjual bunga tabur musiman.

“Alhammdulillah setiap hari sebagai relawan pembersih TPU dan penjual bunga tabur musiman di hari-hari tertentu saya biasa mendapatkan rizeki tambahan yang cukup lumayan,” jelas Sukini.

Baca Juga: Tata Cara dan Bacaan Ziarah Kubur, Lengkap dengan Artinya

“Seperti malam Jumat legi, saya biasa mendapatkan uang jasa sebagai relawan pembersih TPU dari pihak keluarga peziarah sebagai rasa terimakasih karena makam keluarganya saya bersihkan setiap hari dan hasil menjual bunga tabur sampai Rp 200 ribu per hari,” ceritanya.

Kala memasuki bulan Ramadan dan banyaknya masyarakat yang berziarah, pendapatan Sukini pun meningkat hingga dua kali lipat.

“Hari ini saya mendapat berkah bulan Ramadan dari para peziarah sebesar Rp680 ribu satu hari,” ucap Sukini kepada blok-a.com sambil berkaca-kaca karena terharu.

Hal senada juga di sampaikan Aswin (15) pelajar Madrasah Tsanawiyah Negeri Genteng yang bersama teman sebayanya memanfaatkan adanya tradisi tersebut sebagai relawan jukir musiman. Menurutnya hasil dari jukir bisa untuk tambahan uang jajan.

“Sebagai relawan jukir bersama teman – teman kami tidak mematok harga parkir pada peziaroh tapi seikhlasnya. Justru para peziarah malah memberikan uang lebih pada kami dan uang tersebut akan kami bagi rata dengan teman satu tim,” pungkas Aswin mewakili teman – temanya. (kur/lio)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?