Asal Usul dan Makna Mendalam Tradisi Sungkem di Malang Saat Idul Fitri

Asal Usul dan Makna Mendalam Tradisi Sungkem di Malang Saat Idul Fitri

Blok-a.com – Saat tiba hari raya Idul Fitri, tradisi-tradisi yang ada sejak dulu di Malang pun turut menghiasi momen suci ini. Salah satu tradisi yang begitu umum adalah saling memaafkan di antara keluarga dan kerabat, yang kerap dilakukan dengan cara sungkem.

Prosesi sungkem saat halal bi halal ini biasanya dilakukan oleh anak kepada orang tua atau keluarga yang lebih tua, dengan cara mencium tangan sambil bersimpuh.

Menurut berbagai sumber, istilah “sungkem” berasal dari bahasa Jawa yang berarti tanda bakti dan hormat yang dilakukan ke hadapan orang yang lebih tua, dan dilakukan dengan bersimpuh sambil mencium tangan.

Sebenarnya tradisi sungkem telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan kehidupan masyarakat Malang sejak zaman dahulu. Banyak yang menyebut tradisi ini adalah warisan zaman Kerajaan dahulu.

Namun saat ini telah dikombinasikan dengan momen lebaran sehingga lahirlah tradisi sungkem saat halal bi halal dan meminta maaf kepada orang tua. Uniknya, kerap kali rasa haru datang dalam prosesi ini sehingga menambah kesakralan momen saling memaafkan dalam lebaran.

Meski asal-usul pastinya tidak jelas, tradisi ini merupakan hasil dari akulturasi budaya Jawa dan Islam. Penjelasan tentang sungkem dapat ditemukan dalam berbagai sumber, termasuk catatan sejarah, buku-buku tentang budaya Jawa, dan prasasti-prasasti peninggalan masa lampau.

Tradisi sungkem di Malang juga memiliki keterkaitan dengan sungkeman yang kerap dilakukan saat di berbagai momen. Bisa dilihat dalam pernikahan dengan adat Jawa, biasanya ada prosesi ini saat seorang anak duduk bersimpuh mencium tangan untuk meminta restu dan maaf dari orang tua mereka.

Makna dari tradisi sungkem sangatlah baik. Melalui sungkem, seseorang menunjukkan kerendahan hati dan kehormatan kepada orang yang lebih tua, serta meminta maaf secara tulus.

Dalam Islam, tradisi sungkem diperbolehkan selama niatnya adalah sebagai bentuk penghormatan dan permintaan maaf yang tulus, bukan sebagai bentuk penyembahan kepada manusia.

Dengan begitu, tradisi sungkem tidak hanya menjadi simbol penghormatan dan permintaan maaf, tetapi juga merupakan ekspresi dari rasa sayang, cinta, dan hormat kepada orang tua dan sesama. Serta juga dapat menambah kesakralan momen saling maaf memaafkan. (art/bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com