Blok-a.com – Indonesia memiliki keberagaman budaya dan suku bangsa yang tersebar di berbagai wilayah. Oleh karena itu, Indonesia memiliki banyak tradisi unik, salah satunya adalah tradisi lebaran.
Pada umumnya, sebagian besar masyarakat Indonesia menyambut Lebaran dengan tradisi yang serupa mulai dari mudik, silaturahmi, berziarah, serta tak lupa menyajikan ketupat dan opor ayam sebagai menu spesial.
Tak hanya itu saja, keberagaman adat istiadat dan budaya di Indonesia juga melahirkan tradisi unik dari berbagai daerah saat menyambut lebaran.
Berikut tradisi lebaran yang unik dari berbagai daerah di Indonesia:
Baku Pukul Manyapu (Maluku)
Pada hari ketujuh Lebaran atau yang disebut juga sebagai 7 Syawal, warga di Desa Mamala dan Morella, Maluku Tengah, melakukan tradisi Baku Pukul Manyapu.
Tradisi ini dilakukan para pria yang menjadi perwakilan dari masing-masing desa. Menggunakan lidi dari pohon enau, para pria akan bertarung dengan menggunakan lidi mereka untuk menyabet badan lawan. Perang sabet dengan lidi enau yang berlangsung selama 30 menit ini, biasanya akan melukai tubuh peserta dengan guratan di kulit.
Ronjok Sayak (Bengkulu)
Rojok Sayak tradisi yang hadir di bulan suci Ramadhan dari Bengkulu masih terpelihara sampai sekarang. Tradisi Ronjok Sayak dilakukan saat malam takbiran, tepatnya setelah sholat Isya.
Tradisi Ronjok Sayak ini biasa dilakukan oleh suku Serawai. Warga suku Serawai akan menyusun batok kelapa menjulang ke atas. Setelah itu susunan batok kelapa akan dibakar. Warga Bengkulu yakin kalau api adalah penghubung antara manusia dengan leluhur mereka.
Ngejot (Bali)
Umat Muslim di Bali punya tradisi ngejot untuk merayakan hari kemenangan. Ngejot merupakan tradisi berbagi makanan, minuman, dan buah-buahan, sebagai wujud terima kasih kepada tetangga-tetangganya tanpa melihat latar belakang agamanya.
Tradisi yang dilakukan pada setiap tahunnya ini, tak hanya sebagai ungkapan syukur tetapi juga sebagai simbol kerukunan antarumat beragama. Sebaliknya, tradisi serupa juga biasanya dilakukan oleh pemeluk agama Hindu saat hari besar keagamaan Hindu, berlangsung seperti Galungan atau Kuningan.
Tumbilotohe (Gorontalo)
Tradisi Tumbilotohe dalam bahasa Indonesia disebut sebagai malam pasang lampu. Berasal dari bahasa Gorontalo, ‘Tumbilo’ yang berarti memasang dan ‘Tohe’ yang berarti lampu.
Lampu-lampu yang digunakan adalah lampu tradisional dengan minyak tanah yang disebut sebagai Tohetutu. Dalam perayaan ini, penduduk setempat akan memasang lampu di halaman rumah, dan jalan menuju masjid sebagai penanda berakhirnya bulan Ramadhan di Kota Gorontalo.
Meriam Karbit (Pontianak)
Masyarakat Pontianak biasanya mengadakan festival meriam karbit tepat di saat malam takbiran. Warga setempat biasanya menjejerkan ratusan meriam tersebut di pinggir sungai Kapuas.
Asal muasal tradisi ini adalah sebagai bentuk penghargaan kepada pendiri kota Pontianak, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Dahulu beliau punya kebiasaan mengusir roh jahat dengan membunyikan meriam.










Balas