Blitar, blok-a.com – Memasuki bulan Selo dalam Kalender Jawa, warga desa di Kabupaten Blitar hampir seluruhnya menyelenggarakan tradisi Bersih Desa. Berbagai kegiatan dilaksanakan, mulai ziarah ke makam leluhur dan wilujengan, Kirab Pusaka, kenduri dan kirim doa untuk Punden Desa. Bahkan menggelar tradisi Jawa seperti pertunjukan wayang kulit dan tari-tarian tradisional atau campur sari.
Demikian halnya di Desa Serang Kecamatan Panggungrejo Kabupaten Blitar. Warga bersama perangkat desa mengadakan ritual Bersih Desa yang dilaksanakan mulai 7 Mei hingga 9 Mei 2025.
Bersih Desa di Desa Serang ini, diawali dengan Kirab Pusaka Desa, Rabu sore, 7 Mei 2025. Prosesi ini menampilkan berbagai pusaka desa yang diarak keliling desa, menandai dimulainya rangkaian kegiatan sakral. Malamnya, dilanjut dengan Macapat.
Kemudian pada Kamis, 8 Mei 2024 dilaksanakan Khataman Al-Qur’an, Kenduri dan Kirim Doa Punden Desa. Sorenya dilanjut Kenduri Sedekah Bumi 1000 Lengkong yang diikuti seluruh warga, Bazar UMKM, kemudian malam harinya pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Arif Sarjono dan bintang tamu Cak Percil. Sebagai acara pamungkas, Jumat, 9 Mei 2025 pagi dilaksanakan Wayang Ruwat Murwakala.
Kepala Desa (Kades) Serang, Dwi Handoko mengatakan, tradisi bersih desa ini rutin diselenggarakan setiap bulan Selo penanggalan Jawa. Tujuannya adalah untuk melestarikan adat tradisi yang sudah turun temurun, sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Bersih Desa ini, merupakan tradisi selamatan atau upacara adat Jawa untuk memberikan sesaji kepada leluhur desa, sebagai ungkapan rasa syukur atas rahmat dan hidayah Tuhan Yang Maha Esa. Dan untuk membersihkan desa dari pengaruh roh-roh jahat yang mengganggu,” kata Dwi Handoko.
Lebih lanjut Kades Dwi Handoko menandaskan, Kenduri Sedekah Bumi 1000 Lengkong yang diikuti seluruh warga masyarakat Desa Serang merupakan adat atau tradisi yang memiliki makna, sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di mana 1000 Lengkong tesebut berasal dari seluruh warga masyarakat Desa Serang.
“Kenduri Sedekah Bumi 1000 Lengkong ini merupakan adat atau tradisi yang filosofinya adalah wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dari warga masyarakat yang sudah dilakukan turun temurun dari nenek moyang, dan memberikan doa kepada para leluhur yang telah merintis dan berjuang untuk Desa Serang dari waktu ke waktu,” tandasnya.
Lebih lanjut orang nomor satu di pemerintah Desa Serang ini menyampaikan, Wayang Ruwat Murwakala merupakan sebagai doa tolak bala.
“Ruwat Murwakala ini sebagai doa tolak bala, agar masyarakat diberi keselamatan, dilancarkan rejekinya, guyup rukun, dan tentunya dengan gotong royong ini, Desa Serang akan terus maju,” pungkasnya. (jar/lio)









