Ruwatan Agung Blitar, Bebaskan Seseorang dari Kutukan Bawa Sial

KRT. Sastrasasangka atau Ki Ajar Jawadipa (Damar Shashangka) memimpin langsung Ruwatan Agung di Istana Gebang Kota Blitar. (blok-a.com/Fajar)
KRT. Sastrasasangka atau Ki Ajar Jawadipa (Damar Shashangka) memimpin langsung Ruwatan Agung di Istana Gebang Kota Blitar. (blok-a.com/Fajar)

Blitar, blok-a.com – Patembayan Jawadipa wilayah Dahanapura menggelar acara Ruwatan Agung, Kamis (28/09/2023).

Dimana wilayah Dahanapura meliputi Blitar, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Madiun, Magetan,Ngawi, dan Lumajang.

Ruwatan Agung yang digelar di Istana Gebang Kota Blitar tersebut, dipandegani oleh KRT. Sastrasasangka atau Ki Ajar Jawadipa (Damar Shashangka).

Sedangkan yang memainkan pagelaran Wayang Kulit dengan lakon Murwakala adalah Ki Christian, dalang muda dari Blitar, yang merupakan Cantrik Patembayan Jawadipa.

Adapun Ruwatan Agung tersebut, diikuti 8 peserta, diantaranya :
1. Ni Meilina D Lestari, Cantrik Pasuk Wetu, Denpasar, Bali.

2. Nurul Hidayat, Non Cantrik, Kebumen, Jawa Tengah.

3. Ki Cahyanto Candrakusuma, Cantrik Dwipantara.

4. Ki Yosa Fiqi Yuwando, Cantrik Balambangan, Situbondo.

5. Ki Soiman, Cantrik Galuh Pakuan, Jakarta.

6. Tedy Brahmaca, Non Cantrik, Denpasar.

7. Ki Wahyu Nugraha, Cantrik Galuh Pakuan, Jakarta.

8. Ki Abicakra, Cantrik Galuh Pakuan Jakarta.

Ketua Patembayan Jawadipa wilayah Dahanapura, Hendra Setyawan mengatakan, ruwatan adalah salah satu ritual penyucian yang masih dijalankan oleh sebagian besar masyarakat Jawa dan Bali. Ruwatan, dalam bahasa Jawa, memiliki arti “dilepas” atau “dibebaskan”.

“Ruwatan merupakan sebuah upacara yang berasal dari Jawa dan digunakan untuk membebaskan atau melepaskan seseorang dari hukuman atau kutukan yang membawa sial atau membahayakan,” kata Hendra Setyawan.

Makna dari Ruwatan Jawa adalah memohon dengan tulus agar orang yang diruwat dapat terbebas dari bencana dan mendapatkan keselamatan.

“Oleh karena itu, upacara Ruwatan dilakukan untuk melindungi manusia dari berbagai bahaya yang ada di dunia,” jelasnya.

Hingga saat ini, tradisi Ruwatan masih dipercayai oleh sebagian besar masyarakat, karena berhubungan dengan keselamatan wong sukerta. Yaitu orang-orang yang mendapat kesialan, seperti anak tunggal dan keluarganya.

Selain itu, masyarakat juga berhasrat untuk menjaga dan mempertahankan warisan adat istiadat yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur.

“Orang yang diruwat itu, haruslah wong sukerta, yaitu orang-orang yang mendapat kesialan, seperti anak tunggal. Oleh karena itu, setiap anak tunggal harus menjalani ruwatan agar terhindar dari malapetaka dan kesialan,” tandasnya.

Dengan melalui upacara ruwatan, masyarakat Jawa berharap agar diri sendiri dan keluarga terlindungi dari bahaya serta mendapatkan keselamatan.

“Ruwatan bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga merupakan warisan budaya yang penting bagi masyarakat Jawa dalam menjaga keberlangsungan adat istiadat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya,” pungkas Hendra Setyawan. (jar/lio)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?