Gresik, Blok-a.com – Rebo Wekasan di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Gresik berlangsung meriah. Sebanyak 25 tumpeng diarak sejauh satu kilometer dari Balai Desa menuju Masjid Mambaut Thoat yang berada di dekat Sendang Sono, peninggalan Sunan Giri, Senin (18/8/2025) malam.
Ribuan warga terlihat antusias mengikuti arak-arakan. Sebagian mengarak tumpeng dengan penuh semangat, sementara yang lain sibuk merekam jalannya kirab menggunakan ponsel. Tradisi ini memang hanya datang setahun sekali, sehingga selalu dinantikan masyarakat.
Kepala Desa Suci, Ahmad Rizal, menuturkan bahwa perayaan Rebo Wekasan tidak hanya sebatas kegiatan ritual keagamaan. Pihak desa sengaja memadukannya dengan beragam acara untuk memperkuat kebersamaan masyarakat.
“Selain doa bersama, ada kirab tumpeng agung, selamatan desa, sholawat, hingga gebyar UMKM dan pasar malam. Semua kegiatan ini diharapkan semakin memperkuat nilai kebersamaan dan menumbuhkan semangat masyarakat,” ujarnya.
Camat Manyar, Hendriawan Susilo, juga memberikan apresiasi tinggi atas kemeriahan Rebo Wekasan Suci tahun ini. Menurutnya, tradisi tersebut bukan sekadar kegiatan tahunan, melainkan memiliki nilai historis yang erat dengan perkembangan Islam di Gresik.
“Ke depan saya berharap kegiatan ini terus dilestarikan. Tradisi ini mengandung nilai budaya yang penting, apalagi di Desa Suci dan Kecamatan Manyar secara umum terdapat banyak peninggalan sejarah Islam awal. Kegiatan seperti ini tidak hanya menjaga budaya, tetapi juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui keterlibatan UMKM,” jelasnya.
Hendriawan menegaskan bahwa saat ini proses untuk menjadikan Rebo Wekasan Desa Suci sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tengah berjalan. Dengan pengakuan tersebut, tradisi ini akan lebih kuat secara legal dan diakui secara nasional.
“Kita tidak ingin budaya ini diambil alih daerah lain. Seperti halnya di Kecamatan Manyar, sudah ada dua tradisi yang masuk dalam WBTB, yakni makam Siti Fatimah binti Maimun di Desa Leran dan tradisi kolak ayam sanggring di Desa Gumeno. Kita dorong agar Rebowekasan Desa Suci bisa menyusul,” katanya.
Sementara itu, Anggota DPRD Gresik Khoirul Huda menilai bahwa generasi muda harus dilibatkan dalam menjaga kelestarian tradisi. Menurutnya, anak-anak desa perlu mengenal sejarah dan nilai budaya yang diwariskan oleh leluhur.
“Rebo Wekasan Suci sudah menjadi agenda tahunan. Saya berharap anak-anak muda desa memahami nilai budaya ini dan bisa melanjutkannya. Apalagi kirab tumpeng baru ada di masa kepemimpinan Pak Rizal. Semoga ke depan kepala desa selanjutnya bisa tetap melanjutkan tradisi ini,” bebernya.
Selain nilai budaya dan spiritual, Rebo Wekasan juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Selama tiga hari perayaan, deretan pedagang UMKM memadati sepanjang Jalan Kyai Haji Syafi’i. Beragam kuliner khas Gresik, kerajinan tangan, hingga produk lokal lainnya dipasarkan.
“Semoga kegiatan ini semakin mendongkrak UMKM lokal dan memberikan kesejahteraan bagi warga Desa Suci,” pungkasnya. (ivn/gni)









