Blok-a.com – Jika dulu warung tradisional sering kali identik dengan koin receh, kini suara gemerincingnya tergantikan oleh klik/tap dan scan. Toko kelontong dan warung tradisional, bahkan pedagang kaki lima keliling di Malang mulai menyesuaikan diri dengan sistem pembayaran modern seperti QRIS.
Fenomena ini sederhana, tetapi menunjukkan bahwa warung tradisional dengan cepat beradaptasi dengan perubahan dunia digital yang cepat. Di banyak warung, pembeli kini terbiasa membayar lewat ponsel, dan sebagian pedagang menambahkan biaya admin Rp500 untuk setiap transaksi.
Aldo, pengelola toko kelontong di kawasan Landungsari, warungnya sudah menggunakan QRIS sejak lama, bahkan dia juga mengenakan biaya admin Rp500 untuk setiap transaksi memakai metode tersebut.
Baginya, keputusan menambahkan biaya admin bukan muncul tanpa alasan. “Karena ada potongan pas di rekening bank, kayak nggak genap gitu, makanya saya tambah biaya admin biar genap pas waktu nariknya,” ujarnya kepada Blok-a.com, Kamis (6/11).
Ia mengaku sudah menjalankan kebijakan itu sejak beberapa bulan terakhir, mengikuti tren yang juga dilakukan sejumlah pedagang di sekitar tempatnya berjualan.
Menariknya, meski ada tambahan biaya, Aldo mengaku tidak mengalami penurunan pelanggan. “Berkurang, tidak. Jadi tetap sama saja,” katanya.
Menurutnya, pelanggan kini sudah terbiasa dengan tambahan kecil itu.
“Ya mungkin karena orang udah terbiasa beli di sini. Kadang mereka juga mikir, toh cuma 500 rupiah dibanding repot jalan jauh cuma buat cari harga sama. Lagian kita kan buka 24 jam, banyak yang beli malam-malam pas tempat lain udah tutup,” jelasnya.
Sementara itu, pengalaman serupa datang dari Isti, yang juga pedagang kelontong. Isti menilai tambahan Rp500 bukan semata keuntungan pribadi, tapi cara menutup potongan dari bank agar saldo yang masuk tetap utuh.
“Di peraturan banknya itu ada potongannya,” katanya saat ditemui di warungnya, di kawasan Jl. Telaga Warna, Landungsari, Malang, Kamis (6/11).
Meski begitu, ia menilai kebijakan tersebut tidak menimbulkan resistensi dari pelanggan.
“Alhamdulillah sih enggak ada yang protes. Malah sebelum diberlakukan itu ada yang bilang, ‘Tambah admin ya, Bu?’ Jadi pelanggan sendiri yang nanya,” tuturnya sambil tersenyum.
Ia menyebut banyak pedagang lain di sekitar juga melakukan hal serupa. Menurutnya, kebiasaan itu kini sudah dianggap lumrah di kalangan pelaku usaha kecil.
“Biasanya anak-anak kecil beli cilok itu sudah ada mas, terus di sayur-sayur juga itu ada adminnya,” ungkapnya. (mg1/gni)
Penulis: Muhammad Naufal Abiyyu (mahasiswa magang UTM Bangkalan)










Balas