Peternakan Domba Impor Pertama di Mojokerto Kembangkan Populasi hingga 800 Ekor

Domba dan kambing impor di peternakan Setia Kawan Farm Indonesia.(blok-a.com/syahrul wijaya)
Domba impor di peternakan Setia Kawan Farm Indonesia.(blok-a.com/syahrul wijaya)

Mojokerto, blok-a.com – PT Setia Kawan Farm (SKF), peternakan kambing dan domba impor (fullblood) pertama dan satu-satunya di Mojokerto, berhasil mengembangkan populasi ternaknya dari 20 ekor menjadi 800 ekor dalam dua tahun terakhir.

Berlokasi di Desa Sidorejo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, SKF menempati lahan seluas sekitar 4 hektare yang juga difungsikan sebagai area hijau pakan.

Didirikan pada 2023, SKF memulai usaha dengan mendatangkan 20 ekor kambing dan domba fullblood langsung dari Australia dan Afrika Selatan.

Domba jenis Dorper yang didatangkan dari Australia memiliki ciri khas kepala hitam dan bulu tebal, sementara kambing Boer asal Afrika Selatan berwarna putih dengan kepala merah kecokelatan, bertelinga panjang, dan bertanduk mirip kambing Ettawa.

Meski berasal dari luar negeri, kedua jenis ternak ini mampu beradaptasi dengan iklim Indonesia dan memiliki pertumbuhan lebih cepat dibanding kambing lokal. Hal inilah yang menjadi alasan SKF memilih membudidayakan Dorper dan Boer.

“Alasan kami memilih jenis ini adalah untuk memperbaiki genetik ternak. Kambing dan domba impor punya produktivitas tinggi serta kualitas daging yang lebih baik,” kata Fardan Setyo Alamsah, penanggung jawab sekaligus pengelola SKF, saat ditemui di lokasi, Jumat (15/8/2025).

Selain beternak, SKF juga memproduksi pakan konsentrat berbahan baku pertanian untuk memenuhi kebutuhan mitra dan peternak lokal.

“Pertumbuhan yang cepat memberi efisiensi ekonomi dan pasar yang bisa dijangkau masyarakat. Kami juga melakukan persilangan dengan kambing dan domba lokal,” ujarnya.

Harga jual ternak hasil persilangan usia 4–5 bulan berkisar Rp2 juta–Rp3 juta per ekor, sementara fullblood dibanderol Rp20 juta–Rp25 juta.

SKF telah bermitra dengan peternak di berbagai daerah, mulai dari Aceh, Medan, Sumatera Selatan, Kalimantan, Sulawesi, hingga Bali, yang umumnya melakukan penggemukan untuk kebutuhan Iduladha.

Fardan menjelaskan, kandang fullblood berukuran 24×80 meter, sementara kandang persilangan berkapasitas hingga 1.000 ekor ditempatkan di lahan lain seluas 4 hektare yang juga berfungsi sebagai bank pakan.

Saat ini, SKF memiliki tiga kandang yakni khusus fullblood, khusus persilangan, dan kandang produksi pakan.

“Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari, pagi dan sore. Konsentrat diberikan dua persen dari bobot badan, sedangkan serat dan hijauan sekitar sepuluh persen,” terang Fardan.

SKF juga membuka peluang bagi masyarakat untuk belajar, berkonsultasi, dan bermitra.

Ke depan, perusahaan berkomitmen mendukung program ketahanan pangan melalui pengembangan populasi ternak dan kerja sama dengan pemerintah pusat maupun daerah, serta pihak pengimpor resmi seperti Ausidore.(sya/lio)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com