Kabupaten Malang, blok-a.com – Bagi sebagian orang bonggol pohon pisang atau yang kerap disebut gedebok pisang tentu tak dapat dimanfaatkan selain untuk pakan ternak.
Namun, berbeda dengan Ika Wulandari warga Desa Suwaru, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang. Di tangan ibu rumah tangga satu ini, gedebok pisang dapat disulap menjadi makanan yang renyah dan gurih. Olahan gedebok pisang itu kini jadi usaha bisnis miliknya.
Ika Wulandari bercerita, awal mula ide bisnis untuk mengolah gedebok pisang yakni karena banyaknya pohon pisang yang terbuang sia-sia di lingkungan tempat tingganya.
Belajar secara otodidak, Ika kemudian mencoba-coba untuk mengolah gedebok dengan cara digoreng. Berbagai cara memasak ia lakukan dengan mencampurkan bahan yang ada, namun hasilnya tetap nihil.
Bahkan, tak jarang ia gagal. Entah rasa yang dihasilkan pahit, getir atau memiliki efek samping seperti mual, melilit hingga sakit perut dan diare.
“Namun akhirnya saya ingat, kalau hanya ada dua jenis jantung pisang yang bisa diolah dan aman untuk dimakan yakni jenis pisang kepok dan klutuk. Akhirnya coba dan berhasil,” kata Ikan Wulandari saat ditemui di rumah produksinya, Selasa (30/7/2024).
Tak berhenti di sana, usai menemukan jenis pisang yang aman untuk diolah. Ia kemudian kebingungan mendapatkan rasa yang pas, kemudian ia mencoba untuk membuat kripik dengan mencampurkan tepung.

“Alhasil renyah, setelah berbagai cara dilakukan ternyata enak juga rasanya. Awalnya hambar, setelah itu saya coba berikan resep hingga hasilnya gurih,” sambungnya.
Cara pembuatannya pun tak sulit, kata Ika, untuk satu pohon pisang berukuran sedang ia bisa menghasilkan enam hingga hampir tujuh kilogram keripik gedebok pisang.
“Bahan dasarnya gedebok, kemudian tepung terigu dan tepung beras. Lalu, penyedap rasa, garam dan bubuk baking soda serta minyak untuk menggoreng,” beber Ika.
Sebelum digoreng, gedebok pisan diiris tipis. Kemudian, dimarinasi menggunakan air garam dan bubuk bawang putih. Untuk membuat renyah, perlu ditambahkan balok es batu saat merendam gedebok pisangnya.
“Sebelum direndam, gedebok yang sudah diiris tipis diperas-peras terlebih dahulu agar lemas. Kemudian direndam dan siap digoreng,” jelasnya.
Cara menggorengnya tak membutuhkan waktu yang cukup lama, hanya sekitar 10 menit dengan api berukuran sedang. Sedangkan jika menggoreng dalam jumlah besar, maka diperlukan api yang besar pula.
“Jika apinya terlalu besar cepat gosong, kalau api kecil juga berpengaruh ke tekstur jadi tidak renyah dan gampang melempem,” katanya.
Usai digoreng, kripik gedebok kemudian dispinner untuk meniriskan minyak yang terisa. Tujuannya yakni agar keripik lebih awet dalam waktu yang cukup panjang. Kemudian, produk siap dikemas dan dipasarkan.
“Satu pack kami banderol dengan harga Rp10 ribu dengan berat 100 gram,” pungkasnya. (ptu/bob)









