Kota Malang, blok-a.com – Dari jatuh bangun hingga musibah, tak menyurutkan langkah tiga sahabat untuk mendirikan Warkop Kolega, warung kopi baru di kawasan Sudimoro, Malang, yang kini mulai jadi pilihan nongkrong anak muda hingga komunitas.
Muhammad Azka Azrul Ananda, salah satu owner, bercerita bahwa niat membuka kedai kopi sebenarnya sudah ada sejak ia duduk di bangku SMA. Latar belakangnya sebagai pekerja produksi kopi bubuk di sebuah daerah penghasil kopi di Pasuruan.
“Awalnya jualan kopi bubuk. Baru waktu kuliah ketemu lagi sama temenku ini, akhirnya bareng-bareng mulai jualan kopi keliling,” tuturnya.
Perjalanan kedai mereka pertama kali dikenal lewat nama Kopi Pitulungan di kawasan Universitas Gajayana Malang (UNIGA). Sayangnya, dukungan yang sempat ramai tak bertahan lama. Konflik dengan pihak kampus membuat mereka harus hengkang.
Belum selesai, ujian lain datang. Angin kencang merobohkan bangunan warung mereka, tepat di saat rencana renovasi. “Sudah belanja bahan, sudah ngelas, tinggal pasang kanopi, eh pihak kampus turun langsung karena mau diratakan. Nego berkali-kali juga nggak bisa. Ya sudah, kita ngalah dan cabut,” kenang Azka.
Setelah sempat berjualan di depan bengkel, tanpa sengaja mereka menemukan lokasi baru di kawasan Sudimoro. Tak disangka, pemilik tempat justru memberi keringanan dengan kontrak bulanan, bukan tahunan. “Alhamdulillah rezekinya ya di sini,” ujarnya.
Nama Kolega dipilih karena melambangkan persahabatan dan kebersamaan. “Kolega itu kan artinya pertemanan kerja. Jadi seduluran, gitu,” jelas Azka.
Soal menu, Warkop Kolega menghadirkan berbagai varian coffee base, latte, hingga milkshake. Menu andalan yang paling banyak dicari adalah Kopi Butter, terinspirasi dari tren kopitiam. Ada pula Grenada Latte, racikan unik kopi dengan susu dan melon, yang lahir secara tak sengaja di masa transisi dari Pitulungan.
“Alhamdulillah banyak yang suka Grenada Latte. Bahkan dulu ada circle anak-anak yang kalau nongkrong pasti pesen itu. Jadi kita terusin sampai sekarang,” tuturnya.
Selain minuman, tersedia pula camilan ringan seperti cireng, siomay, dan kentang goreng. Ke depan, mereka berencana menambah menu makanan berat sebagai pelengkap.
Salah satu hal yang membuat Warkop Kolega unik adalah jam operasionalnya yang 24 jam penuh. Menurut Azka, hal itu terinspirasi dari latar belakang mereka yang akrab dengan komunitas dan kebiasaan nongkrong hingga subuh. Segmentasi pasar Warkop Kolega pun jelas: pecinta kopi, mahasiswa, anak muda Malang, hingga komunitas lintas malam yang membutuhkan ruang berkumpul.
Apa yang ditawarkan sederhana namun dicari banyak orang: suasana santai dengan tempat luas, harga ramah kantong, menu andalan seperti Kopi Butter, Es Kopi Susu, Grenada Latte, hingga Yakult Mix, ditambah parkiran gratis. Lokasinya yang agak tersembunyi justru menjadikannya hidden gem baru di tengah riuhnya Sudimoro.
Kini, setelah hampir sebulan beroperasi di lokasi baru, Warkop Kolega mampu menjual 30–40 gelas per hari. Bagi Azka, pencapaian ini bukan semata soal bisnis, melainkan tentang nilai persahabatan yang terus hidup.
“Namanya Kolega ya biar terus jadi pengingat, bahwa warung ini lahir dari kebersamaan,” pungkasnya.
Bagi kamu yang sedang mencari tempat nongkrong dengan suasana berbeda di Malang, Warkop Kolega di Sudimoro bisa jadi destinasi yang wajib masuk daftar.(ber/zul/bob)









